Ajeng's Blog

Setiap sesuatu itu berkurang jika diinfakkan kecuali ilmu [Ali bin Abi Thalib r.a.]

Tentang menjadi seorang ibu..

Tidak sengaja, sore kemarin disebuah perempatan jalan saya melihat seorang ibu dengan 2 putra diboncengan motornya. Sebuah keranjang besar ada dibawah kakinya, sepertinya belanjaan (jika dilihat banyaknya barang yg dibawa barangkali beliau seorang pedagang). Mungkin beliau baru menjemput sang putra (karena putranya masih berseragam sekolah) sekalian belanja untuk keperluan dapur atau keperluan dagangannya. Saya tidak tahu bagaimana kehidupan ibu tersebut, yang ada dipikiran saya hanya betapa tangguhnya ibu tersebut.

Ibu seperti itu ada dimana-mana, bahkan mungkin didekat kita sendiri. Mereka adalah ibu-ibu tanpa pilihan (tapi saya yakin itu juga adalah pilihan). Meraka adalah ibu-ibu yang harus menjalankan kedua fungsi secara bersamaan. Fungsi domestik yang mengajarkan kelembutan dan fungsi publik yang menuntut kekerasan. Mereka kebetulan bukanlah perempuan yang dimanjakan dengan ‘fasilitas’ suami sehingga mereka bisa mengayun anaknya sambil menonton gossip dan mencoba resep baru dari majalah. Mereka bukan ladies who lunch di café lalu keluar masuk butik.

Teman saya (yang memutuskan menikah ketika masih semester tiga) adalah seorang ibu muda dengan 1 putra dan seorang lagi masih ada didalam kandungannya ketika takdir mengantarkannya menjadi seorang janda setelah sang suami meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dia yang ceria dan lincah itu lalu berhenti menangis untuk kemudian mengambil alih peran sebagai kepala keluarga untuk keluarga kecilnya. Alhamdulillah sekarang dia sudah menemukan lagi seorang yang insyaAllah akan menjadi imamnya. Semoga calonnya ini kelak akan mengambil beban yg sudah sekian tahun tersampir dipundaknya.

Teman dan ibu diperempatan jalan itu telah memaksa saya untuk merenung. Siapkah saya dibawa takdir ke dalam situasi yang sama? Siapakah yang bisa kita tuntut kalau sudah takdir yang berbicara?

Ibu saya sendiri telah mengajarkan pada saya, bahwa hidup tidak melulu tentang tuntut menuntut jika telah berhadapan dengan sebuah amanah indah bernama anak. Yang mungkin oleh kaum feminis akan dikecam sebagai perempuan yang tak tahu haknya atau bahkan perlu dikasihani karena tak punya pilihan untuk sekedar mendapatkan haknya.

Dulu setiap hari saya selalu melihat ibu saya pagi-pagi sekali sudah mempersiapkan sarapan, seragam dan bekal anak-anaknya sebelum kemudian berangkat kepasar membuka lapaknya (kebetulan ibu saya adalah pedagang). Ketika saya tanyakan kenapa harus berdagang padahal harusnya menafkahi keluarga adalah tanggung jawab suami? Beliau menjawab “Dan bapak sudah menunjukkan tanggung jawabnya kan? Bapak sudah menafkahi kita dengan baik. Ibu bekerja bukan untuk mencari nafkah, tapi hanya untuk memastikan kalau kalian nanti akan terjamin sekolahnya. Kita tidak mau yang buruk terjadi, tapi siapa yang tahu akan masa depan? Ibu tidak mau jika terjadi sesuatu dg bapak, ibu kebingungan untuk menafkahi kalian. Kalaupun Bapak baik-baik saja, itu pinta kita semua, setidaknya ibu bisa membantu menambah tabungan untuk sekolah kalian”.

Alhamdulillah ya Allah, telah Engkau tetapkan kami lahir dari sosok sabar, tegar dan berpandangan ke depan seperti ini. Karena banyak yang tidak seberuntung kami.. Duh Allah semoga tidak akan pernah habis anugrah-Mu kepada keluarga kami.

Mereka bukanlah sosok yang dengan penuh semangat berbicara tentang menjadi perempuan tangguh dan tegar dipodium seminar-seminar, mereka juga bukan feminis yang meneriakkan kesamaan gender. Namun mereka dengan kelemah lembutannya justru menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah sosok tegar dan tangguh yang dengan atau tanpa diminta sanggup mengerjakan peran apapun sepanjang sesuai dengan syari’. Mereka menunjukkan kesetaraan gender yang sesungguhnya (saya lebih nyaman menyebut kesetaraan dari pada kesamaan, karena laki-laki dan perempuan memang tidak akan pernah bisa sama).

Semua melulu atas nama cinta pada Penciptanya dan sesosok kecil bernama anak.

Maka kelak, jika saya dijinkan-Nya menjadi seorang ibu, saya hanya ingin menjadi seorang ibu sejati, dengan segala fungsi yang bisa saya jalankan demi keluarga.

Ehm..kenapa tiba-tiba saya ingin mendengarkan lagu Ibu milik Iwan Fals ya?

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh..
Lewati rintangan bagi aku anakmu..
Ibuku sayang masih terus berjalan..
Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah..
Seperti udara kasih yang engkau berikan..Tak mampu ku membalas ibu, ibu..

Next......

Sapalah hati kami..

Beberapa hari yang lalu saya dan ibu mendatangi undangan dari seorang kerabat jauh. Sangat jauh bahkan, karena rasanya saya hampir tidak mengenalnya. Walaupun secara silsilah kami sebenarnya tidaklah terlalu jauh. Ehm, mungkin karena strata sosial kami yang berbeda? Entahlah.

Ada yang membuat saya termangu disana. Bukan karena kemewahan yang baru saya lihat kali ini, bukan juga ketika menyadari bahwa sofa yang saya duduki harganya setahun gaji saya, bahkan bukan pula lampu Kristal yang saya yakin setelah menabung beberapa tahun baru akan terbeli oleh saya (itupun jika tidak saya ambil karena suatu keperluan).

Yang membuatku termangu karena penerimaan sang tuan rumah. Entah kenapa sedari tadi kami datang belum sedikitpun senyum tersungging untuk kami juga untuk beberapa tamu yang masih kerabat kami. Perasaan ingin segera berlalu membuatku tidak nyaman dan saya lihat hal yang sama pada raut wajah orang-orang yang hadir disana. Jika bukan karena ibu, saya sudah pergi dari tadi pastinya. Tidak bisakah mereka bersikap hangat kepada kami? Bukankah kami adalah tamu mereka? Kami datang karena memenuhi undangan mereka?

Mungkinkah beliau sedang ada masalah sehingga wajahnya tampak begitu ‘kerucut’? Ehm..berbaik sangka saja, mungkin sedang sakit gigi, pikirku. Tapi ketika kusaksikan anak-anaknya juga berbuat hal yang sama, setan mulai menghampiriku sambil meniup-niupkan prasangka buruknya, “Buat apa kaya kalau judes. “ Bukankah nanti kami juga akan ditanyai dari mana kami peroleh dan kami gunakan untuk apa harta kami. Kalau harta sebanyak ini pasti hisabnya lama (hehehe..berusaha ngedem-edem ati).

Astaqfirullah, sebisa mungkin saya usir perasaan itu. Bukankah saya tidak mau orang lain menduga-duga yang tidak baik juga tentangku. Bersu’udzon begitu kepadaku?

Yach, mungkin berbeda pendapat dengan kerabat kami itu. Entah kenapa saya tidak suka ketika ada orang yang bertandang ke rumah kami namun yang dinilai adalah keadaan rumah kami. Memang tidak ada sofa mewah apalagi lampu Kristal dirumah kami. Namun bukankah di rumah kami ada senyum hangat dan keramahan untuk memuliakan tamu? Rumah sederhana kami mungkin tidak cukup besar, namun hati hami luas untuk silaturahmi..

Datanglah ke rumah kami, tataplah mata kami, pandanglah wajah kami lalu ucapkan salam. Sapalah hati kami, karena bagi kami rumah yang sesungguhnya ada di hati. Bertamulah ke hati saya, bukan sekedar ke rumah saya. Jangan lihat ruang tamu kami yang kecil, jangan bandingkan perabot rumah kami, namun lihatlah mata kami dan sapalah hati kami..

Agaknya saya harus berterima kasih pada kerabat saya itu. Setidaknya dengan bertandang ke rumahnya saya menjadi semakin sadar bahwa saya memang butuh harta namun harta bukanlah segalanya..

Oh iya, sebelum kelupaan. Ini sekalian saya pasang award dari Bu Elly dan Mbak Fanda. Terima kasih sekali untuk award yang cantik ini. Semoga kita bisa terus berbagi. Award ini juga saya berikan pada semua teman yang sudah mampir di rumah bunga ini, silahkan diambil award ini sebagai tanda persahabatan saya..



Next......

Sajadahku…


Pagi ini, tidak seperti biasanya aku terpaku di atas sajadahku. Bukan, bukan karena motif yang ada disana. Karena toh itu adalah sajadah hijauku yang biasa saya gunakan juga. Sajadah saya ini adalah saksi ketika saya absen menghadap kepada-Nya. Tapi sajadah ini pula yang membuatku malu, karena mungkinkah hanya sebatas itu ingatan saya akan-Nya? Karena bisa jadi saya mengingat Tuhan hanya dikala berada diatas sajadah ini.

Bahwa Tuhan hanya saya bawa dan saya resapi kehadiran-Nya ketika saya berada diatas sajadah ini, dan tiba-tiba Tuhan hilang ketika saya tidak lagi berada diatasnya? Bukankah harusnya "Apapun aktivitas kita, kita selalu ingat keberadaan-Nya."

Kata sufi, "Jika anda ingin tahu bagaimana posisi anda di sisi Tuhan, lihatlah di mana posisi Tuhan di hati anda!" Itu membuat saya merenung akan hubungan saya dengan Allah swt. Saya pun mencoba melihat ke dalam hati saya, bisakah saya merasakan Tuhan hadir di hati saya? Karena saya takut jangan-jangan Tuhan hanya ada dikala saya diatas sajadah saja, Tuhan saya sebut dikala saya membutuhkan-Nya saja…

Ketika saya sholat dan puasa, saya tahu Tuhan hadir dalam hati saya. Namun ketika saya berangkat kerja, ke luar dari rumah, ketika saya beraktivitas lain, saya tak bisa memastikan apakah masih saya bawa Tuhan dalam aktivitas saya. Saya memang bukan seorang sufi, tapi saya percaya bahwa Tuhan semestinya hadir dalam semua perbuatan saya.

Seharusnya semua aktivitas yang saya lakukan di sajadah ini akan membawa saya untuk selalu mengingat kehadiran-Nya. Bahwa hidup adalah bentangan sajadah panjang kita, berawal ketika kita berada dalam buaian ibu dan berakhir kala kita berada diliang lahat.

"Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" bukankah begitu yang tercantum dalam Al Qur’an.

Duh, sudahkah sajadah saya panjang terbentang?

Ada sajadah panjang terbentang....

Next......

Selalu ada jalan keluar…


Aku pengen curhat, butuh nasehatmu..” Sebaris pesan pendek masuk ke HPku suatu hari, dari seorang teman baik. Sebagai teman saya datang padanya, mendengarkan, lalu sebisa mungkin membantunya memberikan jalan keluar. Dan diapun menjawab,”Iya sih. Temen-temen yang lain juga kasih saran begitu, tapi…”

Seringkah kita mendapati hal seperti itu? Atau jangan-jangan justru kita sendiri pernah berbuat seperti itu? Ketika kita meminta bantuan pada seseorang, dan lalu orang itu dengan ikhlas mencoba untuk membantu sebisa mungkin, mencoba memberikan solusi, ternyata seringkali kita masih mengatakan “tapi”.

Dalam kasus teman saya di atas, saya sempat bertanya sudahkah dia menanyakannya pada orang lain? Dan jawabnya hampir semua teman mempunyai saran seperti yang saya sampaikan. “Lalu?” Tanya saya kemudian.. Diapun menceritakan panjang lebar alasannya tidak bisa menerima pendapat kami.

Ehm..Saya jadi berpikir, apakah ketika kita meminta bantuan saran dan solusi dari seseorang sebenarnya kita itu benar-benar membutuhkan sebuah solusi atau kita hanya mencari pembenaran atas keterpurukan kita?

Jika kita serius mencari solusi, lalu kenapa kita masih mengatakan “tapi” saat ada solusi. Meskipun solusi tersebut kadang terlihat tidak mungkin dipikiran kita. Kenapa kita tidak mencoba untuk berpikir terbuka, sebab seringkali bukan tidak ada solusi atau solusi yang diberikan seseorang pada kita itu tidak mungkin, tetapi orang sering menutup pikirannya untuk solusi. Bukankah akan lebih baik kita tanyakan saja, “Bagaimana caranya?” daripada kita mengatakan “tapi”. Bisa jadi apa yang sebelumnya terlihat mustahil, berubah menjadi hal mudah setelah tahu caranya.

Kebiasaan kita yang sering mendramatisir seolah tidak ada jalan lain lagi jugalah yang seringkali mempersempit pandangan kita. Jika kita menemukan sebuah jalan buntu, memang kita tidak akan menemukan jalan keluar jika kita hanya berpikir itu satu-satunya jalan. Padahal, di luar sana masih banyak jalan lain yang masih bisa kita lalui.

Jadi, tenang, berdo’a, dan carilah solusi diiringi pikiran yang terbuka. Kadang tanpa kita sadari solusi datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Bisa jadi solusi datang dari orang yang tidak kita kenal sama sekali. Yakinlah akan pertolongan Allah. Perluas cakrawala kita sehingga kita akan melihat bahwa jalan itu tidak satu.

Kata orang bijak, semakin tinggi kita naik ke atas gunung atau gedung bertingkat, kita akan melihat bahwa sebenarnya banyak jalan yang bisa kita lalui। Jika kita tidak melihat banyak jalan, artinya, karena kita masih berdiam diri di bawah…


Gambar diatas diambil dari sini


Next......