Ajeng's Blog

Menuliskan apa yang aku lihat, dengar, rasakan dan pikirkan...

Doa untuk anakku

Untuk anak-anakku, jangan jadikan kelulusan sebagai akhir. Justru itu adalah awal. Pintu gerbang sekolah kehidupan yang sebenarnya. Bentangkan sayap mimpimu, karena Alloh SWT akan menyambutnya. Jadikanlah pertemuan-pertemuan kita yang singkat ini sebagai bekal untuk terus melangkah. Karena masa depan adalah milik kalian…

Read More......

Selamat pagi Allah..



Untuk sejenak, ijinkan aku berbicara dengan Engkau..

Tentang aku yang tidak mengerti tawa,
- mungkinkah karena aku bukan canda?

Read More......

Tentang masalah...

“Enak ya kamu, sepertinya nyante banget. Belum banyak masalah seperti aku sih. Mungkin begini nih kalau sudah jadi emak-emak, tiada hari tanpa masalah. Hehehe...” kata seorang teman.

Saya tidak tahu apa maksud dari perkataannya yang diiringi tawa berderai tersebut. Dan saya tidak mau berspekulasi dengan menebak-nebak maksudnya, saya juga tidak sempat untuk menanyakan langsung apa maksudnya karena dia sudah keburu pergi.


Jadi saya hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, adakah orang yang tidak pernah mendapatkan masalah? Rasanya aneh jika ada orang tidak pernah memiliki masalah. Masalah tetap akan menghampiri kita meski kita berusaha dengan keras untuk menjauhi masalah. Bahkan, jika kita masih berpikir bahwa kita tidak memiliki masalah, kita telah menjadi orang yang bermasalah. Bermasalah karena merasa bahwa kita tidak memiliki masalah. Nahkan, membingungkan toh? 


Setiap orang pasti memiliki masalah. Jika ada seratus orang, maka terdapat minimal seratus permasalahan untuk masing-masing orang. Ada masalah sama yang dialami oleh dua orang yang berbeda. Walau yang lebih sering adalah masalah yang berbeda dihadapi oleh orang yang sama sih, alias satu orang mempunyai lebih dari satu masalah. Ada yang mendapatkan permasalahan kecil, tetapi ada juga permasalahan yang membuat susah tidur (walau sebenarnya sekecil apapun masalah itu bisa membuat susah tidur). 


Saya lebih senang menggunakan kata ujian untuk menggambarkan permasalahan yang sedang kita hadapi. Sepertinya kata itu lebih tepat. Ujian memang akan dihadirkan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya. Semuanya telah tercatat dengan baik di Lauh Mahfudzh, bahkan sebelum kita terlahir ke dunia. 


“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudzh) sebelum Kami Mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. al-Hadid [57] : 22) 


Bukankah ujian adalah parameter ketakwaan seorang hamba kepada Rabb-nya. Allah menguji kita dengan banyak hal, seperti kemiskinan, kelaparan, kesusahan, kegelisahan & ketakutan. Bisa melalui teman, keluarga, dan harta benda kita. Kebahagiaan pun kadang dapat menjadi sebuah ujian bagi kita bukan? Terlalu bahagia terkadang membuat kita kurang bersyukur. Kita baru mengingat Nya ketika kesulitan menghampiri. 


Ujian hadir untuk menunjukkan sedekat apa kita dengan Sang Pencipta. 


Roda kehidupan terus berputar, kadang kita merasa berada pada kondisi yang sangat nyaman. Namun, sering kali juga berada pada suatu masa yang benar-benar sulit. Kita akan sering diuji di titik-titik terlemah kita. Ada yang titik terlemahnya berupa rasa cinta kepada lawan jenis, ada yang selalu dihadirkan ujian berupa hati yang lalai untuk menjalankan amanah yang diberikan dan masih banyak yang lainnya. 


Ketakwaan kita diuji melalui sebuah mekanisme bernama ujian. 


Alangkah bijak jika kita bisa mengambil pelajaran dari setiap ujian yang berikan. Kita pun tak menjadi takut jika ujian yang lain datang menghampiri. Karena kita yakin bahwa ujian tersebut datang dari Allah dan akan menaikkan derajat ketakwaan kita jika kita dapat mengatasinya dan bersabar atasnya. Allah menjadi sebaik-baik tempat kembali.. 


Kita memiliki Allah yang Maha Luar Biasa dan Maha Sanggup. Tidak ada alasan untuk kalah karena masalah yang ada.. Semoga kita sanggup bersabar dengan ujian dari-Nya. Aamiin…

Read More......