Ajeng's Blog

Setiap sesuatu itu berkurang jika diinfakkan kecuali ilmu [Ali bin Abi Thalib r.a.]

Potensi diri

Gambar diambil dari sini
Ada kebiasaan saya yang dulu begitu mudah saya lakukan, namun dengan semakin bertambahnya usia saya hal itu menjadi sesuatu yang sulit. Kebiasaan mengambil selembar kertas, membaginya menjadi dua lalu menuliskan (+) di satu sisi dan (-) di sisi lainnya. Lalu setiap kali saya menemukan kelebihan yang ada pada diri saya maka sayapun akan dengan senang hati menuliskannya pada sisi (+). Begitupun ketika saya menemukan kekurangan, maka saya akan menuliskannya pada sisi (-). Karena itu hanya catatan untuk saya sendiri maka saya menulisnya dengan sejujur-jujurnya.

Dalam beberapa hari akan jadilah sebuah daftar kelebihan dan kekurangan saya. Untuk kemudian saya ulangi lagi sehingga saya menemukan beberapa yang permanen menempel pada saya, baik kelebihan maupun kekurangannya. Kebiasaan yang menyenangkan sebenarnya, karena darinya saya jadi tahu bahwa sebenarnya saya itu punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihan yang ada akan membuat saya makin percaya diri, sedangkan kekurangan yang ada akan membuat saya berusaha memperbaikinya. Kebiasaan ini aku lakukan gara-gara (kalau tidak salah) aku membaca sebuah buku motivasi (judul dan pengarangnya lupa) tentang potensi diri.

Namun entah karena apa, kebiasaan itu tidak pernah saya lakukan lagi sejak lama. Mulanya aku pikir karena kesibukan, tapi belakangan saya tahu bukan itu sebabnya. Karena ketika saya punya waktu cukup senggang dan saya mencoba melakukan kebiasaan itu lagi, saya merasa kesulitan untuk melakukannya.

Ternyata sekarang saya lebih mudah ketika menuliskan kelemahan atau kekurangan saya ketimbang menuliskan kelebihan atau bakat saya yang menonjol. Sepertinya sekarang saya begitu sulit untuk mengungkapkan kelebihan saya (karena setiap kali saya akan menuliskannya saya merasa tidak begitu yakin), tetapi saya bisa dengan ringan menulis betapa saya kurang sabaran, malas, keras kepala, ceroboh dan sejuta kekurangan saya lainnya. Hal ini membuat saya sempat termangu. Mengapa seperti itu?

Apakah semakin kesini saya semakin tidak mempunyai kelebihan? Bohong kalau saya berkata iya, karena tentu saja saya terus berkembang (semoga memang lebih baik). Lalu? Ah, mungkinkah karena pemahaman akan kebudayaan kita yang selalu menekankan pada kita betapa pentingnya rendah hati? Sampai ada peribasa yang dibuat untuk mengingatkan kita akan hal itu pakailah ilmu padi yang semakin berisi semakin merunduk. Salahkah semua itu? Tentu saja tidak. Tetapi disadari atau tidak disadari, hal itu mendorong saya untuk berhati-hati dalam bersikap. Salah-salah saya bisa dianggap sebagai orang yang sombong kalau merasa diri mempunyai kelebihan.

Memang kurang baik untuk memiliki rasa percaya diri yang berlebihan. Tetapi menutupi dan menyelubunginya pun akan membuat kita sering mempunyai gambaran diri yang salah. Tidak semua kemampuan diri yang tidak diucapkan menunjukkan bahwa seseorang itu rendah hati.

Sekarang, rasanya saya perlu lebih banyak belajar untuk bisa mengenali kelebihan dan kekurangan saya dengan lebih objektif lagi seperti ketika saya kecil dulu. Karena saya percaya bahwa seseorang diciptakan lengkap dengan talenta dan keterbatasannya. Ketidakseimbangan mengenali keduanya, sepertinya membuat saya seakan tidak bersyukur pada Sang Pemberi Talenta.

Tidak ada salahnya juga kalau saya kembali melakukan lagi kebiasaan saya yang dulu, karena membuat daftar dengan jujur seperti itu maka secara tidak langsung saya sudah bisa menerima diri saya apa adanya bahkan saya bisa menggali potensi diri saya. Bahwa itulah adanya saya, tidak kurang dan tidak saya lebihkan. Tidak mudah memang, tapi saya akan mencobanya lagi. Tertarik untuk mencobanya juga..?

Next......

Tentang sesuatu…


“Ojo sok seneng mbenerne salahe dewe lan nyalahne benere liyan” itu salah satu kata-kata embah putri saya (semoga dilapangkan kubur dan dimudahkan segala urusan beliau). Yang kalau diterjemahkan secara bebas kedalam Bahasa Indonesia kurang lebih “Jangan suka membenarkan kesalahan diri sendiri dan menyalahkan orang lain.” Ehm..simple ya sebenarnya tapi entah kenapa saya merasa kata-kata itu tidak sesimple kedengarannya.

Sering sekali bukan kita terjebak untuk membenarkan tindakan kita sendiri, atau setidaknya mencari pembenaran untuk apa yang sudah kita lakukan. Tidak perduli atas nama apakah kebenaran yang kita catut untuk mendukung tindakan kita itu. Lebih parah lagi kalau beranggapan kalau yang tidak mendukung kebenaran kita itu adalah tidak benar.

Anggaplah kita memang telah memegang suatu standar sebagai alat ukur setiap kegiatan dalam kehidupan kita, dan kita yakini kebenarannya. Tapi supaya lebih baik saat menggunakan alat ukur dalam mengukur sesuatu, alangkah perlunya kita mengetahui sifat dan karakteristik alat ukur yang kita gunakan. Jika kita tidak mengenal alat ukur yang kita gunakan, apalagi tidak tahu cara menggunakannya, walaupun kita yakini alat ukur kita benar, maka hasil pengukuran tentulah tidak akan akurat, dan boleh jadi malah alat ukur kita menjadi rusak.

Susahnya alat ukur kebenaran masing-masing orang itu berbeda-beda. Hayo, beraja jawabmu untuk 1+1 ? Bukankah hasilnya bisa 4:2, bisa 10-6-2, bisa 20-16 kemudian ditambah 5 kemudian dikurangi lagi dengan 7, bisa juga akar kuadrat 144 trus dibagi lagi dengan 6, bisa 3-1, atau..bisa juga langsung hasilnya sama dengan 2! Ya, semua jawaban itu adalah benar semua nilainya walau dari berbagai sisi dan cara mencari jawabnya.

Tapi kenapa banyak dari kita sering sekali dalam mencari tahu kebenaran sesuatu maupun orang lain itu dengan cara cepat saja, kita tidak mencoba mencari tahu dari sisi maupun dengan jalan lain untuk pembuktian. Memang banyak cara dan jalan untuk mengetahui nilai kebenaran itu.

Ada orang yang dengan susah payah ingin menemukan kebenaran keyakinan yang dia miliki dengan perjalanan spiritual yang cukup lama hingga sampai mengalami pengalaman rohani yang indah untuk menuntun kemurnian iman keyakinan dia akan Tuhan. Seperti cara kita untuk menjawab hasil 2 tadi kan? Untuk mencapai hasil 2 harus diakar kuadratkan dulu kemudian operasi lain dan juga perhitungan lain. Tapi ada juga kalanya kebenaran sesuatu atau orang lain itu langsung didapatkan dengan berpikir pendek dan cepat bahkan langsung menelan mentah-mentah.

Sedikit memang orang yang mau bersabar dan mencoba memilah-milah informasi dan berpikir panjang dalam menilai sesuatu apalagi orang lain sesamanya. Terkadang kita tidak mengalami proses operasi yang matematis dalam melakukan penilaian terhadap sesamanya dengan berpikir positif. Orang-orang pasti akan lebih cepat memilih 1+1=2 dalam melihat atau menilai manusia.

Menurut saya kebenaran itu bisa diterima setidaknya jika tidak melanggar 3 aturan atau norma. Pertama tidak melanggar norma agama (dan karena saya muslim maka alat ukur yang harus saya pegang dan yakini kebenarannya adalah Alquran dan Assunah), kedua tidak melanggar aturan negara (walau kita tahu bahwa hukum dinegara kita sedikit kacau balau, tapi itu bukan alasan untuk lalu kita bebas melanggarnya bukan), dan yang terakhir adalah norma masyarakat (karena kita hidup didalam lingkungan masyarakat, kecuali kita hidup sendirian didalam hutan ^_^).

Tapi bukannya kadang yang dianggap benar disuatu masyarakat tidak benar menurut norma agama, yang tidak benar menurut negara kadang tidak patut menurut kacamata agama? Atau sebaliknya? Ya, memang kadang demikian. Tapi menurut saya kalau sesuatu itu benar seharusnya berada dalam koridor 3 ranah tadi. Tapi sekali lagi itu adalah idealnya…

Begitulah kira-kira pemahaman saya, jadi apapun alat ukur yang kita pakai (mungkin berbeda dengan saya karena perbedaan keyakinan dan perbedaan lingkungan) paling tidak saya yakin kalau kita semua sebenarnya mempunyai alat ukur yang berupa hati nurani. Tinggal bagaimana kita memelihara alat ukur kita. Bagaimana kita menjaga hati dan nurani kita agar tetap jernih sehingga selalu terkalibrasi dengan ukuran standar yang kita punyai (bagi yang muslim Quran dan Sunnah Rasul). Dengan memeliha alat-alat tersebut, maka kita berharap selalu bisa mengukur segala hal dengan benar, setidak-tidaknya mendekati kebenaran.

Keterbatasan ilmu membuat pemahaman saya hanya sampai sekian. Jika ingin menambahi atau mengoreksi, dengan senang hati saya persilahkan… ^_^


Next......

Ketika dunia dalam genggaman


Mungkin apa yang saya tulis ini hanya sedikit kekhawatiran seorang yang berkutat dengan dunia anak (remaja khususnya). Saya hanya prihatin dengan pergeseran moral dari beberapa oknum anak didik yang kayaknya sudah diluar batas pelanggaran nilai-nilai moral, susila dan agama. Masih ingat bukan beberapa kasus video anak sekolah yang tidak layak itu?

Saya tahu kita tidak boleh berandai-andai, tapi saya tidak bisa berhenti untuk tidak berpikir seperti apa ya bangsa ini 10 atau 20 tahun ke depan, kalo dilihat dari mental dan moral anak, bahkan mahasiswa, yang kadang sudah ”diluar jangkauan”. Jika selama ini kita mungkin hanya bisa mempersalahkan pejabat yang korup dan yang lain sejenisnya, tapi moralitas anak bangsa calon para pejabat ini kayaknya luput dari perhatian. Padahal secara de facto, kita tahu bahwa masa depan Indonesia berada di tangan mereka. Sebentar lagi, mereka pasti menggantikan para pejabat yang kita masalahkan itu.

Banyak opini yang mengatakan kalau semua ini karena dampak perkembangan tehnologi. Hah? Ada apa memang dengan tehnologi? Tehnologi memang berkembang dengan pesat, tehnologi IT khususnya. Dan kita tidak bisa mencegahnya, lalu dimana salahnya? Apa benar tehnologi (disini saya persempit menjadi internet) yang menjadi biang kerok pergeseran ini?

Internet.. Kini memang menjadi media komunikasi lintas dunia tanpa batas. Betul-betul tanpa batas, karena yang kita anggap tabupun sekarang bisa kita jumpai di internet dengan mudah dan murah. Nahkan, betul? Berarti kita tidak usah menggunakannya saja?

Sangat naif kalau kita sampai berpikiran seperti itu, karena bagaimanapun selalu ada dua sisi yang menyertai sesuatu itu, positif dan negatif. Memang ada akibat serangan globalisasi yang cukup potensial yang membawa sinyal kebebasan tanpa batas dan iklim hak asasi manusia yang mengakibatkan terjadinya penyalahgunaan. Tapi kita juga tidak bisa bohong kalau ada banyak pula manfaat yang bisa kita ambil dari internet. Dengan internet banyak hal dalam hidup kita yang bisa dipermudah, baik secara kualitas maupun kuantitas (mungkin bisa sharing dg teman blogger salah satu manfaatnya). Saya percaya tehnologi itu dibuat untuk mempermudah hidup manusia, bukan justru mempersulit apalagi “merendahkan” manusia.

Dengan internet, seakan dunia memang dalam genggaman. Semua serba mudah, cepat dan murah (Plis Pak Telkom tarifnya jangan terus membumbung). Yang menjadi masalah sekarang justru ketika dunia sudah ada dalam genggaman kita, bagaimana kita lalu menyikapinya. Apakah internet akan kita jadikan sebagai fasilitas untuk mempermudah hidup kita atau justru menjadi candu perusak yang akan menggerogoti fisik dan moral kita? Candu? Yups, karena ada teman saya yang sampai uring-uringan jika sehari saja tidak ngenet saking addictednya. Yuuhuuu..Plis deh, internet itu hanya tools tambahan yang tidak akan membuat kita gak berdaya apalagi mati.

Menjadi anugrah ataupun musibah, jawabannya sangat tergantung pada apa yang ada pada pikiran kita. Kalau kita termasuk orang yang berpikir bahwa hidup adalah amanah Allah dan oleh karenanya memandang Tehnologi sebagai salah satu poin pertanyaan dalam laporan pertanggungjawaban kita di akherat nanti, InsyaAllah kita akan menggunakannya dengan bijaksana.

Jadi ingat ungkapan Einstein “Science without religion is lame, Religion without science is blind”. Mudah2an saja, niat baik dunia pendidikan untuk meng-komputer-isasi-kan sekolah benar-benar didukung dengan perbaikan moral dan mental bangsa ke arah yang lebih baik lagi…

Mungkin salah satu penyebab hal tersebut, diantaranya karena rendahnya pendidikan akidah dan keagamaan terutama yang menyangkut dengan pendidikan akhlak. Oleh karena itu agar generasi bangsa Indonesia tidak mengalami seperti pada masa jahiliayah dan secara generalisasi tidak terjadi dekandensi moral yang berkepanjangan maka solusi yang paling ampuh adalah hendaknya menanamkan pendidikan agama yang utuh dan jitu, dan ini harus melibatkan sistem pendidikan keluarga, pemerintah dan lingkungan (kita semua termasuk didalamnya).

Kita tidak hanya butuh generasi cerdas, tapi kita lebih butuh generasi yang berintelektual, berilmu dan bermoral...

Next......

Fenomena Facebook


Yiiipii...Alhamdulillah akhirnya blogging lagi (terima kasih untuk teman-teman yang selalu men-semangati), walo sebenarnya isi postingan kali ini bukan pemikiranku. Tapi kira-kira seperti ini jugalah yang terlintas dikepalaku..

Sebuah e-mail dari mailing list yang aku ikuti membuat aku terdiam untuk beberapa saat pagi ini. Mencoba berkaca kembali, apakah kita memang sudah seperti itu? Terutama ...saya? Astaqfirullahal ‘adzim, (segera melihat lagi updatean status yg pernah aku tulis).. Jagalah hamba-Mu ini ya Allah, jagalah lisan dan perbuatan hamba dari hal-hal yang Engkau murkai..

Berikut e-mail tersebut (dengan segala hormat, ada beberapa bagian yg terpaksa saya edit), semoga bermanfaat :

Ketika aib seseorang ditunggu-tunggu ribuan bahkan jutaan pembaca dalam berita-berita media massa...

Ketika seorang celebritis dengan bangga menjadikan kehamilannya di luar pernikahan yang sah sebagai ajang sensasi yang ditunggu-tunggu ...'siapa calon bapak si jabang bayi?'

Weleh-weleh, ,......mungkin kita bisa berkata; "ya wajarlah artis, kehidupannya ya seperti itu, penuh sensasi". Kalau perlu dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, aktivitasnya diberitakan dan dinikmati oleh publik.

Wuiiih...... ternyata sekarang bukan hanya artis yang bisa seperti itu, sadar atau tidak, ribuan bahkan jutaan orang saat ini sedang menikmati aktivitasnya [apapun] diketahui orang, dikomentarin orang bahkan [mohon maaf].. dilecehkan' orang. Dan lebih herannya perasaan yang didapat adalah kesenangan.

Fenomena itu bernama FACEBOOK.
Setiap saat para facebooker meng-update statusnya agar bisa dinikmati dan dikomentarin lainnya. Lupa atau sengaja, hal-hal yang semestinya menjadi konsumsi internal keluarga atau rahasia menjadi kebanggaan di statusnya.
Mungkin beberapa contoh status facebook bisa diperhatikan dibawah ini:

Seorang wanita menuliskan "Hujan-hujan malam-malam sendirian, enaknya ngapain ya.....?"--- ---kemudian puluhan komen bermunculan dari lelaki dan perempuan.

Ada yang menulis "Bete nih di rumah terus,....", ----kemudian komen2 bermunculan.

Ada yang hanya menuliskan, "lagi bokek, kagak punya duit..."

.... dan ribuan status-status yang numpang beken dan pengin ada komen-komen dari lainnya yg tidak pantas dilakukan.
Dan itu sadar atau tidak sadar dinikmati oleh indera kita, mata kita, telinga kita, bahkan pikiran kita.

Ada lagi yang lebih kejam dari sekedar status facebook, dan herannya seakan hilang rasa empati dan sensitivitas dari tiap diri terhadap hal-hal yang semestinya di tutup dan tidak perlu di tampilkan.

Seorang wanita dengan nada guyon mengomentarin foto yang baru saja diupload dialbumnya, foto-foto saat SMA dulu setelah berolah-raga memakai kaos dan celana pendek.....padahal sebagian besar yg ada didalam foto tersebut saat ini sudah berjilbab.

Ada seorang wanita meng-upload foto temannya yang sekarang sudah berubah.

Rasanya hilang; apa yang telah diajarkan seseorang yang sangat dicintai Allah SWT...., yaitu Muhammad Rasulullah SAW kepada umatnya, seseorang yang sangat menjaga kemuliaan dirinya dan keluarganya.

Bahwasanya kehormatan menjadi salah satu indikator keimanan seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Malu itu sebagian dari iman". (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan fenomena di atas menjadi Tanda Besar buat kita, hegemoni `kesenangan semu' dan dibungkus dengan `persahabatan fatamorgana' ditampilkan dengan mudahnya celoteh dan status dalam facebook yang melindas semua tata krama tentang Malu, tentang menjaga Kehormatan Diri dan keluarga.

Rasulullah SAW menegaskan dengan sindiran keras kepada kita :
"Apabila kamu tidak malu maka perbuatlah apa yang kamu mau." (HR. Bukhari).

Maka jagalah kehormatan diri, jagalah kehormatan orang lain, jangan bebaskan `kesenangan' , `gurauan' membuat kehormatan kita luntur tak berbekas. Mudah-mudahan Allah menjaga aib-aib kita..

Mari kita jaga martabat dan akhlaq kita sbg orang iman dg selalu menjaga segala sesuatu yg tdk pantas kita lakukan..

Alhamdulillahi jazaa kumullohu khoiron.
[by ishaq m ]

Yossiwahyo
Destinationheavenin donesia.blogspot .com


Al haq minnallah..

Next......