Ajeng's Blog

Menuliskan apa yang aku lihat, dengar, rasakan dan pikirkan...

“Kamu itu baik, tapi terlalu lugu..”

“Kamu itu baik, tapi terlalu lugu..”
Saya tidak tahu harus bersyukur atau justru miris dengan kalimat yang dilontarkan teman saya tersebut. Bersyukur karena saya dianggap baik olehnya, miris karena ternyata saya masih dianggap lugu. Karena, saat itu, lugu dalam mind saya adalah manusia yang lebih dekat dengan kebodohan. Dan bukankah setiap orang berupaya agar bisa keluar dari kebodohan. Lha kok saya malah dikatakan dekat dengan ‘kebodohan’? Hehehe.. padahal saya hanya ingin berprasangka baik.

Bukankah salah satu yang membuat hidup kita tidak tenang itu adalah kegagalan kita untuk berprasangka baik? Kita sibuk memikirkan orang lain, membicarakan orang lain, bahkan mencari-cari kesalahannya. Karena memang kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu saja ada bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. 

Jadi ingat hukum Pygmalion. Ya, Pygmalion, yang adalah seorang pemuda berbakat seni memahat. Namun yang membuat Pygmalion dikenal bukan karena kemahirannya tersebut, tapi karena pandangannya yang selalu positif dalam melihat suatu peristiwa. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik. 

Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, "Kikir betul orang itu." Tetapi Pygmalion berkata, "Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu". 

Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, "Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya." 

Itulah Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain, sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain. Pygmalion berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Nama Pygmalion dikenang sampai sekarang untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. 

Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif. Bukankah Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai? Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu dan suram. Tapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam. Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai. 

Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan. 

Berprasangka baik di setiap kejadian kepada Allah, Sang Pembuat Skenario Terbaik, dan juga kepada manusia. Prasangka baik pada Allah bagian dari Aqidah & kepada manusia lain bagian dari Akhlak Karimah. 

Jadi, tidak ada cukup alasan buat saya untuk keberatan karena dikatakan lugu. Mungkin maksud teman saya itu, saya lugu karena sikap saya yang apa adanya, orisinalitas :)

Read More......

Blogger Hibah Sejuta Buku Fase Ketiga

Bismillahirrahmanirrohim...
Bertemu, bersapa, berceloteh dan berbagi dengan teman-teman dunia maya mengantarkan saya untuk mengenal orang-orang luar biasa ini. Bang Attan, mbak Anaz, Emo, Mbak Else dan lainnya. Mereka adalah orang-orang yg tidak hanya mempunyai ide, namun juga berusaha mewujudkan idenya. Dengan mereka ini pada akhirnya saya tergabung dalam kegiatan Blogger Hibah Sejuta Buku.

Berawal dari Nanlimo a.k.a Datuk Bertuah a.k.a Prima Wahyudi yang sering dipanggil Emo [Artikel Emo dapat dibaca di : Hibah Sejuta Buku ala Blogger 13 November 2009] seorang blogger dari Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru, yang melihat demikian banyaknya buku berserakan di tempat kosnya (tidak jelas, apakah itu kamar kos atau gudang buku), dan juga atas dasar  petuah yang berbunyi "Pemberian yang paling berharga adalah memberikan benda yang paling disayangi atau dicintai", maka mulailah Emo menggalang usaha untuk mengumpulkan buku untuk kemudian disalurkan ketempat-tempat yang membutuhkan. Dan dia menamai gerakan tersebut dengan Hibah Sejuta Buku ala Blogger.


Dan seperti bola salju yang terus menggelinding, gerakan ini semakin membesar dan menyebar. Mulanya antar sesama blogger namun pada akhirnya merambah netter lainnya. Awalnya tanpa ada rencana untuk berfase ataupun tahap dalam penyebutan. Tetapi karena jarak yang pertama dengan kedua cukup jauh, maka terucap begitu saja penyebutan fase kedua. Dan hal ini bukanlah suatu masalah. Karena yang diinginkan adalah meningkatnya rasa berbagi dan peduli dengan sesama, khususnya dalam pemberian buku yang berisi ilmu, "membagi ilmu untuk semua".
 
Target pengiriman pertama adalah sebuah desa di Kabupaten Meranti yang beribukota Selat Panjang, Propinsi Riau. Blogger Hibah Sejuta Buku fase kedua dengan tujuan Papua, tepatnya di Karas, Fakfak Papua barat juga telah berakhir. Alhamdulilah, lebih dari 1000 buku terkumpul dan selanjutnya masing-masing dari volunter mengumpulkannya di Jakarta, tepatnya dikumpulkan di kantor Indonesia Mengajar, Jl. Galuh II No 4, Kebayoran Baru. Kabar terbaru dari relawan penyala Indonesia mengajar, buku akan dikirim ke Fakfak pada awal bulan februari.
 
Jadi inti dari gerakan ini adalah : Menghibahkan buku kita (baik buku baru atau buku yang sudah pernah kita baca) kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan.  Sebenarnya bukan hanya buku bacaan yang kami terima, buku tulispun juga akan dengan senang hati kami terima. Karena di tempat-tempat terpencil seperti itu, buku tulis juga masih sangat minim. Bagaimana jika ingin menyumbangkan uang?  Menurut teman-teman bisa juga, bahkan sangat bisa :) Tapi kalau untuk uang, silakan kirim di akhir pengumpulan buku. Karena biasanya digunakan untuk biaya pengiriman dari masing-masing volunteer.
 
Dengan berakhirnya program Blogger Hibah Sejuta Buku fase kedua, bukan berakhir pula gerakan Hibah Buku ala Blogger ini. Gerakan inipun berlanjut ke fase ketiga dimana seperti disepakati tujuan program selanjutnya adalah Maluku. Yaitu sebuah sekolah dasar, SD YPPK  Manusela Seram Utara. Disini mungkin bisa sedikit memberikan gambaran tentang SD tersebut atau disini.


Proses Hibah Sejuta Buku : Blogger mengirim ke kordinator yang terdekat dan termurah. Untuk blogger yang dekat dengan target lokasi (wilayah Indonesia Timur), dapat mengumpulkannya ke koordinator Ambon. Intinya adalah "cari biaya termurah untuk menyalurkan buku hibah tersebut". Buku yang terkumpul di masing-masing koordinator akan disalurkan ke Jakarta (rencana ditempat ROE SALAMPESSY). Koordinator Indonesia Timur dapat menyalurkannya langsung ke koordinator Ambon. Intinya tetap sama "cari biaya kirim yang termurah". Jika bisa nitip, ya numpang nitip.

Jangka Waktu Penerimaan Hibah Buku : 1 Februari s/d 30 April 2012
Jenis Buku Hibah : Sebenarnya semua buku itu bermanfaat, apapun buku yang dihibahkan tidak masalah asal tidak bersinggungan dengan SARA, pornografi, kekerasan dan hal negatif lainnya. Buku Hibah ini akan disalurkan ke sebuah sekolah dasar, jadi kira-kira buku yang cocok untuk anak SD maupun setingkat SMP, maupun buku umum lainnya.

Alamat Koordinator Hibah Sejuta Buku ala Blogger Fase Ketiga :
PEKANBARU - RIAU DAN SEKITARNYA (saat artikel ini diposting, udah terkumpul sekitar 25 buku di sekre Bertuah)
DWINA
Sekretariat Blogger Bertuah
Jl. Sakinah I no. 2A
Tangkerang Utara
Pekanbaru - Riau
Hp. 0761-4880884

MARYO SANJAYA
Sekretariat Bappeda Kota Pekanbaru
Kantor Walikota Pekanbaru
Jl. Sudirman
Pekanbaru - Riau
Hp. 085271464472

BUKITTINGGI - SUMBAR DAN SEKITARNYA
JAZA AUFAYANI

Jl. Proma 1 no 03
Kelurahan Belakang Balok,
Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh,
Kota Bukittinggi 26136
Sumatera Barat
Hp.

BEKASI - JAWA BARAT DAN SEKITARNYA
HARIE AL-MUNDZIR SD-IT AL FIDAA

Jl. Damai no 8
Papan Mas blok F
Tambun Bekasi
Jawa Barat 17510
Hp.


JAKARTA DAN SEKITARNYA
ROE SALAMPESSY

Jl. Tebet Dalam 4 no. 31 A.
Kel. Tebet Barat RT.12/RW.01.
Jakarta Selatan-12810.
Hp. Roe Salampessy 085716061556
 
AMBON DAN SEKITARNYA
AFRIANTI MAHULETTE
AKBAR MARASABESSY

(BLOGGER ARUMBAI)
Jln. Jenderal Sudirman,
Galunggung Samping SMA 11 Ambon,
Lorong SD 64. No. 6. RT 06/006
Ambon 97128

SEMARANG - JAWA TENGAH DAN SEKITARNYA
SLAMET RIYADI

Jl. Pasarsari RT 3 RW 3
Gunungpati 50225
Semarang-Jateng

BOGOR DAN SEKITARNYA
ERIKASMAN GAFAR

PT. Yudhistira Ghalia Indonesia
Jln. Rancamaya KM.1 No 47
Warung Nangka
Ciawi-Bogor 16720

KEDIRI - JAWA TIMUR DAN SEKITARNYA
AGUSTIN WILUJENG

Jl. Letjen Suprapto No. 58
Kediri 64124
Jawa Timur
Hp. 08819252376

SULAWESI DAN SEKITARNYA
YUNIAR SAKINAH WALIULU (UNHY)
Kompleks Wesabbe Depan Pintu 2
Unhas Blok C No.49,
Makassar-90245.
Hp.


JOGJAKARTA DAN SEKITARNYA
ANTOK SURYADEN
Jogloabang
Desa Gombang, Tirtoadi, Mlati,
Sleman - Yogyakarta 55223
Hp. 081 227 320 63



KALIMANTAN DAN SEKITARNYA
SUROTO
SMAN 1 Bakumpai
Jl. Atak Iberansyah
Desa Lepasan - Kecamatan Bakumpai
Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan 70512
Hp. 0819 53560008
Flexi. (0511) 7437397


BANDUNG DAN SEKITARNYA
RIO PRATAMA
Masjid Syamsul 'Ulum IT Telkom
Jl. Telekomunikasi
Dayeuh Kolot - Bandung
Jabar 40257
Hp. 085721434775


Dan jika teman-teman berkeinginan menyumbang dalam bentuk uang, ada teman yang menyediakan diri rekeningnya dipakai untuk kegiatan ini. Adalah :
1. Mandiri cabang Bintaro atas nama, Rachmawati nomor rekening 128-00-0578580-0

2. BCA KCU Green Garden - 253 1201 606 - Helmi Budi Prasetyo

Untuk bertanya dan hal lainnya, silahkan bergabung dan berkomenar di facebook grup : Blogger Hibah Sejuta Buku

Mari berbagi.. Karena dengan berbagi kita sesungguhnya sudah belajar. Belajar untuk bersyukur di tengah semua keterbatasan, belajar mencintai manusia dg cara kita sendiri, belajar memaknai ulang hidup kita.. 

Read More......

[repost] Tentang menjadi seorang ibu..


Tidak sengaja, sore kemarin disebuah perempatan jalan saya melihat seorang ibu dengan 2 putra diboncengan motornya. Sebuah keranjang besar ada dibawah kakinya, sepertinya belanjaan (jika dilihat banyaknya barang yg dibawa barangkali beliau seorang pedagang). Mungkin beliau baru menjemput sang putra (karena putranya masih berseragam sekolah) sekalian belanja untuk keperluan dapur atau keperluan dagangannya. Saya tidak tahu bagaimana kehidupan ibu tersebut, yang ada dipikiran saya hanya betapa tangguhnya ibu tersebut.


Ibu seperti itu ada dimana-mana, bahkan mungkin didekat kita sendiri. Mereka adalah ibu-ibu tanpa pilihan (tapi saya yakin itu juga adalah pilihan). Meraka adalah ibu-ibu yang harus menjalankan kedua fungsi secara bersamaan. Fungsi domestik yang mengajarkan kelembutan dan fungsi publik yang menuntut kekerasan. Mereka kebetulan bukanlah perempuan yang dimanjakan dengan ‘fasilitas’ suami sehingga mereka bisa mengayun anaknya sambil menonton gossip dan mencoba resep baru dari majalah. Mereka bukan ladies who lunch di café lalu keluar masuk butik.

Teman saya (yang memutuskan menikah ketika masih semester tiga) adalah seorang ibu muda dengan 1 putra dan seorang lagi masih ada didalam kandungannya ketika takdir mengantarkannya menjadi seorang janda setelah sang suami meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dia yang ceria dan lincah itu lalu berhenti menangis untuk kemudian mengambil alih peran sebagai kepala keluarga untuk keluarga kecilnya. Alhamdulillah sekarang dia sudah menemukan lagi seorang yang insyaAllah akan menjadi imamnya. Semoga calonnya ini kelak akan mengambil beban yg sudah sekian tahun tersampir dipundaknya.

Teman dan ibu diperempatan jalan itu telah memaksa saya untuk merenung. Siapkah saya dibawa takdir ke dalam situasi yang sama? Siapakah yang bisa kita tuntut kalau sudah takdir yang berbicara?

Ibu saya sendiri telah mengajarkan pada saya, bahwa hidup tidak melulu tentang tuntut menuntut jika telah berhadapan dengan sebuah amanah indah bernama anak. Yang mungkin oleh kaum feminis akan dikecam sebagai perempuan yang tak tahu haknya atau bahkan perlu dikasihani karena tak punya pilihan untuk sekedar mendapatkan haknya.

Dulu setiap hari saya selalu melihat ibu saya pagi-pagi sekali sudah mempersiapkan sarapan, seragam dan bekal anak-anaknya sebelum kemudian berangkat kepasar membuka lapaknya (kebetulan ibu saya adalah pedagang). Ketika saya tanyakan kenapa harus berdagang padahal harusnya menafkahi keluarga adalah tanggung jawab suami? Beliau menjawab “Dan bapak sudah menunjukkan tanggung jawabnya kan? Bapak sudah menafkahi kita dengan baik. Ibu bekerja bukan untuk mencari nafkah, tapi hanya untuk memastikan kalau kalian nanti akan terjamin sekolahnya. Kita tidak mau yang buruk terjadi, tapi siapa yang tahu akan masa depan? Ibu tidak mau jika terjadi sesuatu dg bapak, ibu kebingungan untuk menafkahi kalian. Kalaupun Bapak baik-baik saja, itu pinta kita semua, setidaknya ibu bisa membantu menambah tabungan untuk sekolah kalian”.

Alhamdulillah ya Allah, telah Engkau tetapkan kami lahir dari sosok sabar, tegar dan berpandangan ke depan seperti ini. Karena banyak yang tidak seberuntung kami.. Duh Allah semoga tidak akan pernah habis anugrah-Mu kepada keluarga kami.

Mereka bukanlah sosok yang dengan penuh semangat berbicara tentang menjadi perempuan tangguh dan tegar dipodium seminar-seminar, mereka juga bukan feminis yang meneriakkan kesamaan gender. Namun mereka dengan kelemah lembutannya justru menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah sosok tegar dan tangguh yang dengan atau tanpa diminta sanggup mengerjakan peran apapun sepanjang sesuai dengan syari’. Mereka menunjukkan kesetaraan gender yang sesungguhnya (saya lebih nyaman menyebut kesetaraan dari pada kesamaan, karena laki-laki dan perempuan memang tidak akan pernah bisa sama).

Semua melulu atas nama cinta pada Penciptanya dan sesosok kecil bernama anak.

Maka kelak, jika saya dijinkan-Nya menjadi seorang ibu, saya hanya ingin menjadi seorang ibu sejati, dengan segala fungsi yang bisa saya jalankan demi keluarga.

Ehm..kenapa tiba-tiba saya ingin mendengarkan lagu Ibu milik Iwan Fals ya?

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh.. Lewati rintangan bagi aku anakmu.. Ibuku sayang masih terus berjalan.. Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah.. Seperti udara kasih yang engkau berikan
..Tak mampu ku membalas ibu, ibu..

====================================================

Tulisan ini pernah saya posting disini, tapi sangat ingin memposting ulang dirumah bunga ini dan mendedikasikannya untuk para ibu, wanita calon ibu dan muslimah yang luar biasa diluar sana. Jangan malu untuk menjadi seorang wanita, jangan malu untuk menjadi seorang muslimah dan jangan malu untuk menjadi seorang ibu. Wanita harus ikut berperan bersama pria dalam membangun peradaban manusia. Karena wanita ada dalam peradaban itu sendiri..

Read More......