“Kamu itu baik, tapi terlalu lugu..”
Saya tidak tahu harus bersyukur atau justru miris dengan kalimat yang dilontarkan teman saya tersebut. Bersyukur karena saya dianggap baik olehnya, miris karena ternyata saya masih dianggap lugu. Karena, saat itu, lugu dalam mind saya adalah manusia yang lebih dekat dengan kebodohan. Dan bukankah setiap orang berupaya agar bisa keluar dari kebodohan. Lha kok saya malah dikatakan dekat dengan ‘kebodohan’? Hehehe.. padahal saya hanya ingin berprasangka baik.
Bukankah salah satu yang membuat hidup kita tidak tenang itu adalah kegagalan kita untuk berprasangka baik? Kita sibuk memikirkan orang lain, membicarakan orang lain, bahkan mencari-cari kesalahannya. Karena memang kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu saja ada bahan untuk menduga hal-hal yang buruk.
Jadi ingat hukum Pygmalion. Ya, Pygmalion, yang adalah seorang pemuda berbakat seni memahat. Namun yang membuat Pygmalion dikenal bukan karena kemahirannya tersebut, tapi karena pandangannya yang selalu positif dalam melihat suatu peristiwa. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.
Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, "Kikir betul orang itu." Tetapi Pygmalion berkata, "Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu".
Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, "Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya."
Itulah Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain, sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain. Pygmalion berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Nama Pygmalion dikenang sampai sekarang untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif.
Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif. Bukankah Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai? Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu dan suram. Tapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam. Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.
Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan.
Berprasangka baik di setiap kejadian kepada Allah, Sang Pembuat Skenario Terbaik, dan juga kepada manusia. Prasangka baik pada Allah bagian dari Aqidah & kepada manusia lain bagian dari Akhlak Karimah.
Jadi, tidak ada cukup alasan buat saya untuk keberatan karena dikatakan lugu. Mungkin maksud teman saya itu, saya lugu karena sikap saya yang apa adanya, orisinalitas :)




