Menuliskan apa yang aku lihat, dengar, rasakan dan pikirkan...

Menilai Ketulusan

Mungkin terdengar klise kalau saya bilang pekerjaan telah membuatku melupakan sejenak ‘rumahku’ ini, tapi memang itulah adanya. Ditambah koneksi inet yang naik turun membuatku malas untuk melongok sebentar kerumah ini, walaupun sekedar untuk blog walking. Mohon maaf untuk semua yang telah berkunjung dan tidak menemukan yang baru disini… Tapi Alhamdulillah akhirnya saya bisa juga menuliskan sedikit kisah sendiri ini. Mohon koreksinya ya…

Pernahkah anda mendapat pujian, keramahan atau perhatian lainnya dari orang sekitar kita? Pasti pernah. Saya juga pernah, dan karenanya saya menulis ini. Bukan tentang pujian itu sendiri tapi tentang diri saya ketika menerima pujian itu.


Ketika mendapat pujian tertentu, sempat terbersit dihati saya sebuah ragu, ”Ah, jangan-jangan orang itu tidak benar-benar memuji, bermanis-manis dengan maksud dan tujuan tertentu. Mereka tidak tulus memuji saya..bla..bla..bla..”

Astaqfirullah… Kenapa saya bisa meragukan ketulusan seseorang? Siapa pula saya ini yang merasa bisa menilai seseorang itu tulus atau tidak?

Dan jika, katakanlah, mereka benar tidak tulus terhadap saya lalu kenapa? Apa ruginya saya? Toh mereka hanya berusaha menjaga sikap dengan menyenangkan hati orang lain? Tidakkah saya pun akan menjaga sikap pula untuk sekedar berbasa-basi? Yang tentu saja tanpa terjebak untuk menjadi munafik.

Idealnya, seharusnya memang sama antara yang diucapkan dengan apa yang dilakukan. Tapi kalau ternyata mereka mempunyai alasan lain untuk berbuat itu, bukan berarti kita boleh menilai mereka tidak tulus bukan? Dan bahkan jika mereka ternyata benar-benar tidak tulus, biarlah itu menjadi urusan mereka. Kita tidak lantas harus membiarkan diri terbebani dengan bisikan-bisikan apakah mereka tulus atau tidak, yang justru hal itu akan merusak hati kita.

Karena seringnya kita terjebak untuk menilai ketulusan seseorang itu berdasarkan definisi yang telah kita buat sendiri, sesuai dengan apa yang kita inginkan, sesuai dengan batasan-batasan yang telah kita tetapkan. Sehingga ketika ada yang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan batasan kita itu kita lantas menganggapnya tidak tulus.

Kenapa lalu kita yang harus menilai ketulusan seseorang? Bukankah akan lebih mudah kalau kita serahkan saja sepenuhnya pada Dia Yang Maha Tahu untuk menilainya. Sebab kita, manusia, punya keterbatasan untuk bisa menilai. Karena memang ketulusan itu tidak memiliki alat ukur yang jelas, tidak ada indikator yang pasti yang dapat digunakan untuk mengukurnya.

Bukankah sudah terbukti juga kalau ternyata kita seringkali salah menilai seseorang?

Saya tahu saya tidak sempurna, jadi sebuah pujian tidak akan lalu menjadikan saya sempurna. Tapi sebuah pujian yang misalkan tidak tulus pun, juga tidak boleh menyakiti saya apalagi membebani saya. Kalau hal itu memang terbukti sebuah ketidaktulusan, semoga saya bisa menjadikannya sebagai pelajaran untuk menjadi lebih tulus lagi.

Saya yang seharusnya tulus
Bukan meributkan apakah orang lain itu tulus pada saya atau tidak…

74 komentar:

Kita mestinya harus selalu berprasangka baik dengan orang lain, kita hanya berhak menilai dari apa yang dikatakan (lahiriah) dan kita tidak berhak menilai apa yang ada di dalam hati seseorang.
Cuma kehati-hatian perlu bagi kita, jangan sampai "pujian" orang bisa "merusak amal" kita. Intinya sih seimbang gitu.

Benr mba'... saya kadang memikirkan orang tulus or tidaknya... seharusnya pikirkan diir sendiri dulu tulus or tidaknya kita melalkukan sesuatu..

Iya ..setuju ..ngapain juga kita berprasangka ... tak kan ada yang ditambahi dan pasti ada yang terkurangi yaitu rasa nyaman dihati karena prasangka tadi.
barangkali untuk tulus ada baiknya kita belajar dari cermin.
Nice sharing bu guru.
sungguh

Betul sekali Mbak, yg berhak menilai ketulusan seseorang itu hanya Alloh.
Ya seperti saya ini contohnya, saya sudah berniat insyaf, tp masih juga ada yg ndak percaya, ya sudah, saya hanya sekedar menjalani saja.

Luar biasa km Jeng, balikin aja semuanya pada Alloh, mau tulus mau enggak yg penting kita gak merasa terganggu aja oleh sanjungan dia.
Terima aja, sambil kita berlaku wajar seperti biasanya.

Jeng... Sebentar lg aku mau bikin surprise buat km. Tunggu aja.

Saya dapat menebak: Postingan ini pasti terinspirasi dari nama Pak Tulus. Iya, khan?

Ada saatnya, pujian bisa menjadi makanan hati. Tapi, tak sedikit pujian justru membuat hati mati. Wallahu'alam.

Mbak Ajeng bener tuh..., harusnya kita tak perlu menilai tulus atau tidaknya orang lain dalam memuji kita.
Toh.., dia sudah berusaha menyenangkan kita. Usahanya patut dihargai bukan ?
Dan.., sudah selayaknya kita tidak berpura-pura dalam menerima pujian itu. Kalau kita senang dengan pujiannya, tak ada salahnya kita bilang terima kasih. Kita jujur...
Daripada kita harus bilang bahwa pujiannya salah alamat bukan ? Itu munafik namanya, kan ?
Masalahnya, orang Indonesia seringkali "malu" utk menerima pujian dan terbiasa utk bilang bahwa pujian itu salah alamat.
Nice posting mbak... Maaf kalo komentku kepanjangan.

emang susah banget yah mbak kalo tulus.
kata temenku cara biar cpt tulus itu dg cara lupain ajah.

Menilai seseorang tulus apa gak, memang susah. Karena kita hanya manusia biasa yg cuma diberi perasaan dan hati. Jadi memang hanya Tuhan yang Maha Tahu.
Sebagai manusia, kita hanya bisa menilai dari hati nurani kita...

Jadi yaa trust your feeling deh...

mmm,gimana ya mba :D, kan membuat senang orang baik juga lho ...

semoga inetnya cepet lancar deh hehehehe

Apapun bentuknya sih mbak..
Tulus atau engga, hendakknya kita gak terlalu terlena
tapi kadang susah untuk jadi tak terlena
apalagi pujian itu datengnya dari seseorang yang kita sayang atau yang kita taksir

sepakat Mbak Ajeng, memang kadang prasangka justru memenjarakan diri kita sendiri, memang lebih baik biarlah orang lain memuji diri kita, kita tidak berhak menghakimi apa dibalik pujian tersebut, urusan ada maunya atau tidak itu lebih pada urusan orang dengan yang Diatas.

Kadang justru prasangka dari diri kita sendiri yang menghambar diri kita untuk berbuat baik pada siapa saja.

ketulusan itu memang tidak memiliki alat ukur mbak ajeng. hanya orang yg memuji itu yg tau apa dalam hatinya dia tulus atau gak dengan kata2nya.

berprasangka buruk itu gak baik.kadang kita juga sering salah menilai orang kan. adalah lebih baik kalo kita kembalikan pada Alloh agar tidak timbul riya' karena mendapat pujian

Ketulusan,
Hanya diri sendiri yang dapat menilai
Apakah tulus akan suatu pemberian telah tercapai

wah... ketulusan itu sangat sulit dinilai..

hanya aku dan Dia yang tau...

hehehe...

benar yang berhak menilai ketulusan ya hanya Illahi yang maha tau.

betul juga setuju ma big sugeng sayah

Dengan tulus, postingan ini mang keren!

Kita tidak bisa menuntut orang lain untuk tulus, tapi kita bisa menuntut diri kita untuk memulai ketulusan itu. Dengan gaya Golden Ways bisa ditulis: "Jadikan diri kita pribadi yang tulus, lakukan setiap pekerjaan dengan tulus, lalu perhatikan apa yang terjadi!"

kalo ada yang memuji, bilang terima kasih aja mbak.

terkait dengan bagaimana menghargai orang lain, terlepas bagaimana tulus ataupun tidak tulus suatu pujian, semoga silaturahim tetap terjaga kepada siapapun juga, dengan tetap berada di koridor yang tepat, tanpa harus menyakiti dan melupakan, tanpa memandang siapa dia, bagaimana masa lalunya dsb.

yang penting sih kita melakukan yg terbaik aja dari diri kita sendiri

btw jeng...masuk ke blog kamu berat ya...

setuju dengan kalimat terakhir. seharusnya kita yang tulus. ndak usah meributkan orang lain tulus ato tidak...artinya kita sudah berprasangka...

Keren - keren, harusnya para politisi kayak mbak ajeng, bisa berpikir kayak gitu. Salut buat mbak ajeng :D

Ketulusan seseorang memang hanya Allah SWT yang bisa menilainya.

Nice post mbak.

Ketika bertemu, atau bersinggungan dengan orang lain. Dalam hal apapun, apalagi baru kenal, perlu ada kecurigaan.

Hanya saja kecurigaan tadi harus kita kelola dengan sebaik-baiknya. Tentu dengan olah batin dan Olah kata agar kecurigaan tadi tidak nampak, dan jangan sampai kecurigaan tadi membuat kita menjaga jarak darinya. Justru kerugian yang kita dapat.

Ada pengalaman, Kurir tempat aku usaha aku rekrut banyak yang aku dapat dari Perkenalan lewat telpon. Kadang ada rasa kwatir, jangan-jangan uangnya dibawa kabur. Tapi setelah melewati berbagai ujian dan pengalaman, prinsipku adalah : Kita akan tau dia baik atau tidak, Tulus atau tidak setelah kita jalan bareng. Terutama ketika melewati masa susah. Ketika orang tersebut lari kita tau orang macam apa dia.

Sangat betul, semuanya kita pasrahkan kepada-Nya. Maka tenang kita melangkah. Soal baik atau buruk tinggal kita pintar mensikapinya.

hehe ya bener2 nyambung, mbae. hee kok bisa ya? tapi masih cakepan punya mba kok,memuji asli loh

yang jelas kita harus berbuat tulus terhadap siapa saja, bahkan pada pekerjaan kita, jika kita seorang pekerja di sebuah perusahaan tentunya kita harus berbuat tulus pada perusahaan tsb, termasuk dengan yang ada di lingkungan tsb. Apapun yang dilakukan dengan tulus dan iklas pasti berbuah dengan kebaikan.

Thank's

"ketulusan"...
dapatkah kita tulus menerima atau memberi...???

sebagai contohnya orang tua kita, terutama "ibu"...
dapatkah kelak kita bisa setulus ibu yg melahirkan ,memdidik serta membesarkan kita...???
apakah kelak kita dapat setulus mereka saat kita menjadi orang tua...???

contohlah ketulusan mereka...
oraktekan dari sekarang agar kelak kita berlaku tulus terhadap anak2 dan cu2 kita...

post yg menarik untuk disimak.
thx ya mba...salam kenal... :D

yaaa aku maafin kok mba
suer
tulus

ketulusan... huffh... sekarang ini mulai hilang dari jiwa jiwa orang indonesia...

Kunjungan pagi ...
Tulus dan gak tulus tipis batasnya
Saya setuju pendapat mama hilda ....

Salam

Tapi beneran saya tulus menyukai postingan2 ajeng di blog ini

Meski kata sebagian org ketulusan itu bisa dirasakan, bagi saya bukan urusan saya utk sibuk menilai apakah org lain tsb tulus atau tidak. Yang penting saya mencoba bersikap apa adanya, setulus yang sy bisa (waspada ttp) kpd orang lain dan alam ini. Kalau ternyata org bersikap lain di dpn, lain di belakang, kan dosanya dia sendiri yang tanggung, hehe.

tulus dan gak tulus,

baiknya mulai dari diri sendiri dulu
:)

memang, ketulusan itu susah dicari. tidak semua orang otu tulus dalam melakukan sesuatu, coz karena tulus dan pamrih itu hanya dibedakan benang merah yang tipiiiiiiiiiiiiiiisssss sekali. (benar pa benar!)

salam!!

tulus ikhlas tanggungjawab jujur dan berbuat dosa itu memang barang yang mahal

Tulus,
kadang bagitu halus,
kadang bertendensi fulus,
kadang juga membungkus akal bulus...
Tulus,
artikel Anda,
bagus...

Btw, maap, saya baru smpt memfollow blog Anda...

ketulusan memang hanya Dia dan yang bersangkutan yang paling tahu semoga kita selalu bisa berperasangka baik pada semua orang tanpa ber tanya tulus tidaknya orang yang berusaha baik pada kita.

pujian adalah suatu penghargaan yang bukan berbentuk barang kepada kita yang mungkin telah berbuat baik,terlepas pujian itu disampaikan dengan tulus atau tidak.

maka alangkah bijaksananya kita jika tetap berpikir positif walaupun mungkin kata2 itu tidak tulus

biarlah MAHA BESAR ALLAH yang akan memberi ganjarannya

hmm....susah memang menyikapi hal itu mbak.
bahkan sebuah pujian itu bisa menjadi fitnah.

makasih mbak,... saya yakin mbak sudah tulus koment dan menjadi follower di blog aku.

Menerima pujian hampir sama halnya dengan menerima kritikan, jadi mesti lapang dada dan mengambil hikmah dari tindakan orang tersebut.
Oh ya salam kenal ya Mbak...

sip, memang kalo menilai ya diri sendiri saja, cuman kan harus berkaca dari pengalaman atau orang lain bukan...

Makasih mbak atas pencerahannya..
Ternyata selama ini aku banyak salah menilai orang..

Benar kata mbak, kita tdk perlu memikirkan ketulusan org lain, yang terpenting pikirkanlah ketulusan kita terhdp org lain...nice post...

bener mba. susah namanya tulus....

http://awalsholeh.blogspot.com/

Sulit untuk menilai ketulusan seseorang, hanya Alloh yang maha tahu

Bu Guru...
menurut pengalaman aku...seseorang yang menilai sesuatu yang kita lakukan atau kita kerjakan..baik itu tulus atau tidak..yang penting dia sudah melihat dan mengapresiasikan pendapatnya...atas hasil yang kita kerjakan...

Betul sekali mbak. Bagiku yg terpenting adalah ketulusan yg selalu berusaha aku berikan. Kita bisa merasakan ketulusan org lain, kalopun ia tidak tulus, itu urusannya sendiri. Jgn sampai mempengaruhi perlakuan kita thdnya.

@all yg sudah tulus berkomentar: terima kasih,matur nuwun,thank u,mercy,kamsia,arigato gosaima,hatur nuhun,dan lain-lain bahasa yg saya tidak yahu tapi bermakna sama..
InsyaAllah komentar ini menambah ilmu ajeng..

benul mbak...setujuh... hanya saja mungkin karena pengalaman kepercayaan yg pernah dikhianati membuat sedikit was was...tpi sekali lgi setuju sama mbak..positive thinking lbh baik

mo makan keripik tulus dulu ah (eh talas maksudnya) :D

aku tulus sudah meng-link mu mbak yu ;)...

ketulusan = hati
isi hati seseorang cuma DIA yang tahu...

gelap... *koneksi eror..*

jalan jalan malam neh mbak sapa tau mau datang abesok hi...........

salam kenal aja neh dari blogger baru

salam kenal
puncak dari ketulusan adalah keikhlasan

lam knal ya dari Q...

saya suka sama postingan bu gur , suerr...saya tulus :)

Biarlah Allah yang menilai sebuah ketulusan. Yang terpenting kita berjuang untuk memuji orang dengan tulus.

Tapi kalau ada yang mencemooh beri uang RP. 50.000,- saja mbak.

Salam kenal dari Nganjuk.

pada umumnya ketulusan tidak akan bisa dilihat dari satu waktu saja,membutuhkan skian lama waktu mengalami suka dan duka untuk bisa menilai ketulusan seseorang

ketulusan memang rumit dan susah untuk diteorikan, karena kadang ketulusan juga bisa terpengaruh dengan suatu keadaan tertentu

untuk lebih bijaksana,tidak usahalah kita memikirkan mengenai ketulusan orang lain, tapi pastikan pada diri kita kalau kita sudah berbuat ketulusan pada orang lain

Love and Care,

begitu sulit ketika kita harus menilai ketulusan seseorang,terkadang kita sering tertipu dengan ketulusan mereka yang palsu..

wuah..
memang bagaimana kita bersikap pun harus jujur pada diri sendiri dahulu

salut

Terkadang kita dihadapkan pada situasi dimana "ekting" ketulusan dibutuhkan....

saya juga sering mbak, sering banget malah.

Kadang kita memang sulit utk menebak ketulusan seseorang ya.. bahkan kita sendiri kadang sulit melakukannya ... gara2 ada yg namanya pamrih.. hehe siip n lam kenal mba Ajeng

Yang maha tahu dan yg berhak menilai ketulusan itu hanyalah Allah .. saya setuju itu ..siip deh postingan yg bagus

Idealnya, seharusnya memang sama antara yang diucapkan dengan apa yang dilakukan. Sepakat bnget Mbak.
Akan lebih baik jika semuanya diserahkan pada Yang Maha pantas untuk dipuji Allah SWT.
Dzadjakillah khairan katsira :)

Saya berkunjung dengan niat yang tulus. Yang penting happy.

selalu dlm keiklasan dan kepasrahan tuk perjalanan hidup...
slm knal and jngan lupa kunjungi blog.q yach

dari hati dengan ketulusan..