Menuliskan apa yang aku lihat, dengar, rasakan dan pikirkan...

Tembang relief bumi

Teman,
apakah kau lihat..
mentariku tak lagi berseri
rumputku tak lagi bersemi

kemana akan kupahatkan rindu?

pada kembang-kembang plastik
sungai-sungai berpolusi
atau pada gunung-gunung dari besi?

tak lagi semi..
tak lagi wangi..

tak lagi bisa melagukan,
tak lagi bisa menyanyikan,
tembang kedamaian.
Dipucuk-pucuk cemara
meranggas tembang lara,
"alunan gema raya berdendang"

maka teman,
jangan kau tangisi
kala..
diudara panas bumi menguap
ditanggul sungai air membelah
pada palung tsunami laut melepas

Jika tidak padamu teman,
kepada siapa kusampaikan?

kelu hati relief bumi
yang tiada lagi bertudung pelangi..


=========================================
Kediri, Ujung senja dibawah langit saga

23 komentar:

puisi yang penuh makna nda ... eh ning Ajeng

bahwa semua ini disebabkan karena ulah dan keserakahan manusia sendiri.
Tidak cukupkah manusia membuat kerusakan di muka bumi? dan mereka berjalan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Rasa-rasanya tak terhitung Al Quran mengisyarakat akibat ulah manusia dan tentu saja dampaknya dirasakan sendiri oleh manusia. Berbagai bencana tiada hentinya. ketika musim kemarau bencana kekeringan muncul, apalagi ketika musim hujan banjir, longsor. Padahal alam selalu bertasbih pada-Nya, kenapa manusia justru lari dari tasbih sunatullah.

nice post mbak ajeng :)

sajak yang indah, touchy,,
Alam menangis, bumipun menangis,,,

keren, tersampaikan semua yg dirasa :) tq 4 share...

kala bencana terus menggema di bumi ini
lalu... siapa yang mesti disalahkan?
kitakah salah satunya?

keren, tersampaikan semua yg dirasa :) tq 4 share...

Ngebayangin deretan kata dalam puisi itu dilagukan Ebiet G. Ade. Hmh ... dentingan gitarnya pasti pas dengan liriknya.

Bila begini..bagaimana kita mengatasinya...

Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang Bisnis dan Kesehatan di blogku : http://www.indonetwork.co.id/ptmsinet, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx

manusia berbuat kerusakan demi harta begitu dapat karma baru nangis, masih mending nangis dari pada saling menuduh mencari kambing hitam dan lebih parah tidak melakukan apapun untuk mengurangi kerusakan. :D puisi yang bagus neng ajeng. salam kenal ya.. kunjungan pertama nie.. kapan2 mampir neng.

puisinya menarik mbak..

hemmm :( salah manusia

tapi akibatnya juga mesti ridho

tapi bagaimana halnya dengan perilaku bumi kita akhir2 ii, yg lebih sering memberikan cobaan kepada makhluk2 di atasnya dengan bencana dan sebagainya ?

Masih ada kesempatan untuk memperbaiki:)

Penduduk Indonesia itu 90 % Orang Islam. Tapi melihat kerusakan bumi Indonesia yang parah menggambarkan penghuninya perilakunya tidak Islami....Mari introspeksi.

kunjungan balik ditunggu di sini http://ramlannarie.wordpress.com/ dan http://ramlannarie.blogspot.com/

dalem...penuh makna,saya suka rangkaian katanya...kalo boleh saya mau coba jadikan lirik lagu buat saya mainkan sendiri ^_^'

puisi yg menyentuh dan sarat makna. I like it!
Dzadjakillah khairan katsira :)

mampir lagi sebelum bu2 nii mba' :)
sukses terus buat mba'nya :)

tukeran link yuk...link blog ini sudah ada di blog saya...periksa aja dulu..kalau sudah ok, mohon add link saya, namanya "Bolehngeblog"..trims

Alamku tak lagi ramah, ataukah aku yang terlalu pongah...?

makasi kunjungannya mbag... di tunggu entri barunya..

saya harap lebih banyak lagi orang yang sadar, betapa alam sudah banyak berubah karena perbuatan kita juga.

saya suka puisi ini, penuh makna dan lirih.