Muhasabah, Raport Diri dan Schedule Baru
Pada tanggal 7 Desember kemarin sudah kita masuki tahun baru Islam 1432 Hijriah, beberapa hari kedepan insyaAllah tahun baru 2011 Masehi juga akan kita jelang. Mungkin, saya terlalu bodoh untuk memaknai apa maksud tersirat-Nya akan kedekatan perayaan dua tahun baru (Hijriyah dan Masehi) ini. Mungkinkah itu adalah ‘tanda’ agar kita mengawali langkah dengan ber-‘hijrah’ dari kondisi yg kurang baik menjadi lebih baik hingga kemudian di tahun baru masehi kita mempunyai optimisme untuk menentukan langkah yang lebih baik kedepan?
"Sungguh, dalam semua ini terdapat pesan bagi mereka yang dapat membaca tanda-tanda," (Q.S. Al-Hijr [15]: 75).
Yang berlaku pada anak sekolah, sesuai dengan Kalender Pendidikan dan Kurikulum yang berlaku, setiap akhir tahun ajaran setelah melewati Ujian Akhir Semester setiap siswa dipastikan menerima yang namanya raport. Raport adalah laporan hasil belajar siswa per semester. Dari sana dapat dilihat, bagaimana hasil belajar siswa selama satu semester sebelumnya. Untuk yang bijak, raport dijadikan sebagai pijakan untuk bertindak selanjutnya. Namun bagi yang tidak cukup jeli, mungkin hanya melihat raport sebagai deretan angka-angka yang tidak perlu diperhatikan. Tidak berpengaruh banyak untuk langkah kedepan. Padahal sesungguhnya, raport dapat dijadikan sebagai alat introspeksi diri. Nilai-nilai yang memenuhi standar harus dipertahankan bahkan ditingkatkan, sedangkan nilai yang kurang harus mulai dicari solusi pemecahannya agar raport berikutnya kita tidak lagi mendapat nilai ‘merah’.
Dan bukankah hidup itu juga sebuah sekolah? Sekolah yang bahkan tidak mengenal kata lulus, kecuali nanti jika kita sudah ‘tamat’. Sekolah yang harus dilewati oleh setiap orang, dimana ‘ujiannya’ juga akan menjadikan kita ‘naik kelas’. Lalu bagaimana dengan raport kita? Raport kita dalam hidup adalah ‘bagaimana kita’ hari ini. Karena bagaimana kita hari ini adalah hasil dari apa-apa yang sudah kita usahakan sebelumnya. Dan seperti halnya raport untuk siswa, seharusnya ‘raport’ itu bisa kita jadikan sebagai muhasabah diri. Sebagai introspeksi, sebagai koreksi diri.
Muhasabah berasal dari bahasa Arab yang artinya menghisab atau menghitung. Dalam penggunaan katanya, muhasabah diidentikkan dengan menilai diri sendiri. Dalam melakukan muhasabah, seorang menilai dirinya, apakah dirinya lebih banyak berbuat baik ataukah malah lebih banyak berbuat maksiat dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja dia harus objektif dalam melakukan penilaian.
Kebiasaan muhasabah yang dilakukan oleh orang-orang seiring dengan bergantinya tahun merupakan 'budaya' (bahkan diantaranya ada yang beranggapan, hanya di akhir tahun waktu yang cocok untuk memuhasabahkan diri). Padahal idealnya kita melakukan muhasabah tiap hari. Menjelang tidur, kita mengevaluasi diri kita, bagaimanakah kita hari ini? Seberapa banyak kebaikan dan kemanfaatan yang sudah kita lakukan? Seberapa banyak kebaikan yang kita perbuat? Seberapa banyak kesia-siaan yang sudah kita kerjakan? Bukan sebagaimana anggapan orang yang mengatakan bahwa waktu yang paling tepat untuk mengintrospeksi hanya di akhir tahun atau pada saat adanya bencana. Ok, taruhlah anggapan itu benar, lalu bagaimana dengan nasib orang yang ketika hidupnya belum sempat mendapatkan “akhir tahun”? Wallahu ‘alam..
Sudahlah, terlepas dari itu semua muhasabah tetaplah penting kita lakukan. Masalah kapan waktu yang digunakan untuk bermuhasabah, masing-masing punya dasar dan pertimbangan sendiri.
Dan ‘berbicara’ tentang muhasabah, jadi sedikit melongok ‘raport’ saya sendiri. Sejujurnya, kalau ditanya apa yang harus saya ‘reformasi’ tahun ini, saya bingung untuk menjawabnya. Karena saya sadar kalau saya belumlah menjadi pribadi yang ideal (kalau memang pribadi ideal itu ada), terlalu banyak hal yang harus saya rubah agar diri ini menjadi pribadi yang lebih baik lagi (tidak hanya lebih baik dimata manusia tentu saja, namun lebih baik dimata Allah utamanya). Bukan saya tidak bersyukur dengan keadaan saya sekarang, karena sesungguhnya Allah sudah memberikan lebih dari apa yang saya inginkan. Namun, saya percaya kalau sebenarnya manusia itu selalu diberi kesempatan oleh-Nya untuk selalu bisa menjadi lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi. Dan saya ingin menjadi yang lebih baik itu, sehingga saya merasa harus ada sesuatu yang saya rubah pada diri saya agar kedepannya tercapai ‘yang lebih baik’ itu. Karena bukankah kesejatian pribadi akan terwujud seandainya kita mengetahui segala kesalahan di masa lalu dan berupaya mengubahnya agar menjadi lebih baik. Dalam hal ini, tafakur bisa berarti upaya intelektual untuk mengubah diri, masyarakat, bahkan dunia (jika tidak terlalu muluk).
But one can’t have all, saya bukan wonder woman yang bisa melakukan sekaligus segala sesuatu, saya harus membuat skala prioritas. Dan prioritas yang ingin saya perbaiki adalah manajemen waktu saya. Karena teringat kata-kata Bapak saya, bahwa Allah tidak pilih kasih dalam memberikan waktu. Baik yang kaya, yang miskin, yang manajer, yang kuli batu, yang berpendidikan tinggi, yang tidak pernah sekolah, yang cantik, yang kurang cantik, yang sehat, atau yang kurang sehat semua diberi waktu yang sama, 24 jam. Saya hanya ingin membagi lebih banyak waktu untuk ‘orang lain’, saya hanya ingin menjadi lebih bermanfaat untuk orang lain. Karena bukankah sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain?
Sudah terlalu banyak waktu yang saya manfaatkan untuk kepentingan diri sendiri, sudah saatnya saya merubah schedule saya dengan meluangkan lebih banyak waktu untuk berbagi hal bermanfaat kepada orang lain. Orang-orang disekitar saya utamanya. Sungguh, kita tidak pernah tahu kapan waktu kita akan berhenti bukan? Senyampang waktu itu masih diberikan kepada kita, kenapa tidak kita berbagi kemanfaatan kepada orang lain?
Seperti juga seorang siswa sekolah yang baru naik kelas, pertama kali seseorang memasuki kelas baru dan meninggalkan kelas lama, ada semacam kebiasaan di kelas lama yang tanpa sadar dibawanya ke kelas baru. Tahun baru juga rasanya begitu. Ketika kita memasuki tahun baru mungkin ada saja kebiasaan tahun lalu yang sulit diubah, direkonstruksi, dan bahkan diganti dengan kebiasaan yang lebih baik. Untuk itulah diperlukan adanya muhasabah (kembali terlepas kapanpun kita melakukan muhasabahnya) agar dalam memasuki tahun atau hari baru ini kita bisa menyelami secara reflektis dan kritis apakah ada tingkah laku yang semestinya diubah, diganti, bahkan harus dibuang dan ditinggalkan. Dan seperti yang saya ungkapkan diatas, saya ingin merubah schedule waktu saya. Bagaimana dengan teman-teman yang lain? Saya percaya masing-masing kita punya skala prioritas yang berbeda. Namun saya percaya, tujuan yang ingin kita gapai adalah sama. Yaitu menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya.
Ups, jangan melupakan bahwa di samping bermuhasabah, bertafakur, kita juga harus memunajatkan doa kepada-Nya. Karena doa adalah wujud syukur dan juga kepasrahan diri kepada-Nya selama putaran tahun baik yang lalu ataupun yang akan datang.
Ehm..sebenarnya bukan tahun barunya yang penting, karena toh setiap tahun kita selalu mengalaminya (semoga umur kita dipanjangkan sampai tahun depan), namun bagaimana kita bisa mulai menata ulang sikap mental jiwa dan kesiapan usaha raga untuk memasuki tahun yang baru. Seharusnya di tahun baru kita juga harus memiliki cara pandang yang baru pula dalam upaya memperoleh sesuatu yang baru dan lebih baik. Tahun baru juga berarti mengasah kompetensi diri dengan metode yang baru untuk meraih jenjang yang lebih baik. Jangan sampai seperti seorang pembelah kayu yang terus menerus menyia-nyiakan waktu dan tenaganya untuk membelah kayu dengan kapak tumpul karena tidak punya cukup waktu untuk berhenti dan mengasah kapak itu.
Selamat tahun baru 1432 H dan tahun baru 2011. Semoga kita bisa menjalani tiap detik, menit, jam, hari dan bulan di tahun yang akan datang dengan beragam ‘proses’ yang bermanfaat dan memberi manfaat. Karena tahun adalah sekumpulan ruang dan waktu yang didalamnya bisa kita berikan arti. Sehingga pergantian tahun bukan hanya merupakan fenomena sesaat sebuah pergantian angka.
Semua kisah punya akhir. Tapi dalam kehidupan, setiap akhir adalah awal suatu kisah yang baru..
================================================================
Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Muhasabah Akhir Tahun di BlogCamp
Gambar : asal nyomot dari inet


43 komentar:
Hidup adalah sekolah, di mana setiap kenaikan tingkat selalu harus melalui ujian...
lanjutkan hidup melewati pergantian tahun :)
Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam K.U.M.A.T - Kontes Unggulan Muhasabah Akhir Tahun di BlogCamp.
Akan dicatat sebagai peserta
Salam hangat dari Markas Blogcamp di Surabaya
dalam hidup, perjalanan kita sendirilah yang menjadi sekolah kita dan hasil akhirnya akan kita pertanggung jawabkan diakhir perjalanan nanti ^^ akhir perjalanan yang merupakan awal dari perjalanan baru ^^
raport chika apa yah :(
semoga gx dapat nilai merah
hhee
nice post mba...
mengingatkan diri untuk selalu bermuhasabah :)
moga istiqomah ye :)
Belajar dan belajar..itulah yang harus kita jalankan.
Salam..gimana kabarnya hari ini, lagi2 tulisan yang bagus. Mb suka ...
Kita jaddikan momen akhir tahun sebagai sarana untuk bermuhasabah. Momen ini bisa juga kita jadikan sebagai sarana untuk hijrah secara maknawiyah, dari kegelapan pada cahaya islam
membuang sesuatu yang baik dan melanjutkan sesuatu yang baik
bisa memberikan manfaat buat orang lain dan diri kit
Wah.... mbak Ajeng selalu teduh dan mencerahkan.... Iya ya mbak semoga kita bisa menjadi hamba Allah yang semakin baik. Amiiin...
pemikiran yang dalem ;) i like it
semoga tahun depan makin sedikit raport kita yang berwarna merah ya mbak... semoga sukses kontesnya
Ajeng,
menurutku dalam sisa hidup ini adalah menata qolbu untuk tetep berjalan pada rule nya, aku berharap dihari mendatang dikarunia kualitas dalam usia ini, terlindungi oleh NYa, dimudahkan segala angan dan keinginan kita, diberi rasa sehat, jauh dari balak kecil dan balak besar, jauh dari fitnah hidup, fitnah kubur dan fitnah akherat, amin. dan doa itu juga buatmua, amin
moga tahun depan dilancarkan semua keinginan dan lebih baik dari tahun kemarin..amin
moga tahun depan dilancarkan semua keinginan dan lebih baik dari tahun kemarin..amin
Raport saya apa yg tahun kmren, mdha2n lbh baik dari tahun sblumnya
artikelnya menarik banget Bu,
semoga bisa direalisasikan oleh kita masing-masing,
semoga pakde memilih anda sebagai juara kontesnya, Amin.
salam kenal, ditunggu kunjungan baliknya,
terima kasih :-)
tahun ini saya mengalami masa2 sulit, tahun depan saya bertekad bangkit... misalnya blog saya dapat menghasilkan pendapatan :)
*maklum selama 2 tahun ngeblog belum berhasil dapat uang :(
akhir taun banyak cobaan, fiuhh..
semoga taun depan jd lebih baik. amiinn..
moga menang ya
sebuah catatan penutup tahun yang penuh makna.
"sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain" ... Semoga tahun selanjutnya kita bisa lebih bermanfaat. Aamiin ...
Sukses dengan kontesnya ya, mbak Ajeng. Tulisan yang mantap!
muhasabah akhir tahun, akhir bulan , akhir minggu, akhir hari, pun juga setiap saat selalu bermuhasabah diri..
btw blognya keren,,,, design sendiri?
semoga kedepan jadi lebih baik, baik, baik dan baik lagi, tetep semangat menjalani hidup dan kehidupan ini. Semoga selalu di ridloi Allah SWT
salam saking mbantul
Sebentar lagi moment pergantian tahun,,,
yups benar, "Semua kisah punya akhir. Tapi dalam kehidupan, setiap akhir adalah awal suatu kisah yang baru"
semoga dengan bermuhasabah setiap waktu , kita dapat mengenali diri kita sendiri,,agar kita tak lupa siapa kita,,, :)
Semoga aku bisa melewati berbagai macam ujian hidup hingga nanti..
Sekali lagi, makasih sharenya. DIikutkan lomba rupanya? :) semoga menang yah, Mbak? :)
Mbak, Anaz pengen ketemu deh sama Mbak Ajeng *serius* Semoga tahun depan pas pulang bisa ketemuan...
Suka banget Mab dengan tulisannya. Sempga sukses yah
Btw semoga di taun berikutnya kita bisa semakin 'membenahi diri', menjadi lebih baik lagi :-)
huhuhuuu mbaaak saya kok tambah males ngaji akhir2 ini T_______T
met tahun baru ISLAM...
semoga menang mbak...ketika kita menghitung diri..kalo boleh dikatakan hanya scuil persen..saja...tapi kalo menghitung orang lain..wuiiih...sekarung persen...selamat tahun baru mbak..semoga ditahun kedepan langkah kita lebih ringan dan lebih baik dibanding..tahun yang telah kita lewati....
baru sempat mampir membawa Buku besar catatan peserta KUMAT sambil melakukan penilaian,
Salam hangat selalu.
mawas diri dan mengevaluasi diri itu perlu, untuk mengoreksi segala kekuranga kita ....
keren artikelnya...penuh manfaat... salam kenal and salam silaturahmi... :)
salam sobat
kunjungan dari aljubail Saudi Arabia.
benar mba,hidup ini seperti sekolah yang tiap akhir tahun ajaran menerima hasil nilai ujian yg ditulskan di raport.
Aku perlu juga utk bermuhasabah, mbak.
Nice post...!
Semoga menang lombanya ya...
Seperti biasa... tulisan mbak Ajeng luar biasa.
Penuh makna dan perenungan bagiku...
Nice post mbak... Aku suka sekali.
masih seperti yang dulu, mbak?
Semoga menang mba lombanya!
Salam ukhuwah..
Mari kita perbaiki diri agar tak menjadi orang yang merugi
kakak mau gabung ama kliker iklan gak ne link nya m-society.blogspot.com ini rahasia loh
kunjungan pertama di blog ini.
salam kenal ya bos :)
continue to live past the turn of the year:)
:bagus
saya terpaut dalam bahasan raport, Sedih sekali,, dulu nilai saya pernah jelek gr2 pergaulan saya yg ga bener.. itu membuat mama saya cuma bisa merenung diam
Poskan Komentar