Kado yang terlalu cepat dan kedewasaan [?]
Assalamu’alaikum teman-temen blogger ^_^
Apa kabarnya hari ini? Apa kabar imannya? Masih tetap semangat menjalankan ibadah puasa? Alhamdulillah..
Beberapa hari yg lalu, saya lupa bagaimana awalnya ketika tiba-tiba saja ada teman yg memberi saya sebuah kado. Ketika saya buka, selain sebuah hadiah disana juga ada sebuah pesan. Intinya tentang ucapan selamat ulang tahun dan permintaan maaf karena terlambat dalam penyampaian. Lalu saya bilang ke beliau “Terima kasih untuk perhatian dan kadonya. Tapi kado ini belum terlambat, karena hari lahir saya belum berubah. Tetap tanggal 14 :) ”
Ehm.. Tidak terasa, betapa waktu telah membawa kita begitu cepat menapaki detik, menit jam hingga berubah menjadi hari, bulan dan hitungan tahun. Secara matematis, memang umur saya bertambah, tapi secara ruhaniah (semoga istilahnya betul begitu) kesempatan saya untuk “do something” agar pundi tabungan amal saya didunia bertambah justru berkurang.
Semoga pertambahan usia ini membawa perubahan dalam kebaikan, semoga umur yang sudah diberikan-Nya barokah untuk saya, keluarga saya, agama saya dan orang-orang disekitar saya. Amiin..
Wuih, berarti tambah dewasa ya? Harusnya begitu. Kok harusnya..? Secara saya sendiri tidak tahu apa devinisi dari dewasa itu sendiri. Apakah seorang yang berusia “cukup” itu sudah bisa dikatakan dewasa atau ada indikator lain? Karena [menurut saya] tidak ada alat ukur yg pasti yg bisa digunakan sebagai indikator untuk menunjukkan sebuah kedewasaan. Karena sepertinya kedewasaan itu terkait dengan “rasa”, bisa jadi menurut kita seseorang itu dewasa tapi kadang tidak menurut orang lain.
Toh [masih menurut saya], didalam diri seorang yang “cukup usia”pun kadang masih kita dapati sisi kanak-kanaknya. Saya sendirilah misalnya, terkadang masih rindu disuapi ibu, masih main game Strawberry Shortcake juga. Bukankah itu sisi childish?
Setahu saya, sebutan lain untuk manusia selain homo sapiens (makhluk yang berpikir) adalah Homo luden, makhluk yang bermain. Nah, manifestasi "homo luden" tersebut tidak hanya dalam bentuk senang bermain pedang-pedangan seperti kebiasaan anak-anak tapi juga menjelma dalam bentuk-bentuk yang menurut orang "dewasa" adalah "tidak serius" -- karena beyond their habit -- atau dalam bahasa "dewasa" disebut sebagai childish atau "kekanak-kanakan". Dan memang pada nyatanya selalu ada sisi “kanak-kanak” dalam diri setiap person sedewasa apapun dia.
Ada seseorang yang pernah bilang ke saya bahwa ada 3 hal seseorang bisa dikategorikan dewasa. Yakni bagaimana dia dalam menyelesaikan masalah, bagaimana dia menempatkan diri serta bagaimana dia dalam pengaturan emosinya. Yach, memang bisa jadi kedewasaan seseorang akan terlihat saat dia menanggapi perkataan yang menyatakan bahwa dia tidak dewasa atau childish bukan? Mungkin sebagian akan mengajukan banyak sanggahan atau alasan agar pandangan kita berubah dan mencabut tuduhannya. Tapi ada juga yang hanya diam, tenang, menanggapinya hanya dengan sebuah senyuman, tak kurang juga yang balik menyerang dengan memaparkan wacana-wacana yg menyudutkan. Bagaimana reaksi kita ketika kita menanggapi itu, apakah cukup untuk menunjukkan tingkat kedewasaan seseorang? Ehm.. masing-masing kita pasti punya jawaban sendiri.
Kalau saya pribadi, sebenarnya tidak begitu ambil pusing mau dikatakan dewasa atau tidak. Karena dewasa itu sendiri juga menuntut sebuah “pertanggungjawaban” yang tidak kecil. Ingat Peter Pan? Tahu tidak, mengapa dia tidak mau menjadi dewasa? Karena baginya, dewasa itu berat, penuh beban tanggung jawab. Makanya ia memilih tak mau bertambah usia agar masih bisa bermain-main dengan Tinker Bell dan kawan-kawan sepermainannya yang lain. Dan bebas dari tanggung jawab bekerja, mengurus anak (jika sudah menikah) dan tanggung jawab lainnya.
Tapi apa iya juga kita akan seperti PeterPan? Tentu saja tidak..
Jadi, jika "dewasa" itu sebuah kekuatan yang besar maka bersamanya ada pula tanggung jawab besar yang menyertainya.
Ehm.. Selama kita bisa mempertanggungjawabkan “diri” kita secara fisik, psikis dan ruh mungkin saat itulah kita bisa dikatakan dewasa. Bertanggung jawab secara vertical (kepada Alloh) dan horizontal (kepada sesama manusia). Kedewasaan merupakan barang abstrak yang hanya bisa dijadikan sebagai jalan untuk "mencapai". Kedewasaan bukan proses akhir, tapi lebih adalah arah proses. Dewasa itu bukanlah sesuatu yang telah dicapai, karenanya sulit untuk menyepakati makna dewasa...
Menjadi dewasa itu bukan sesuatu yang final (becoming) atau ajeg seiring pertambahan usia, ia adalah proses bahkan pertarungan untuk "menjadi" dalam diri tiap orang. Makanya manusia itu "human being" bukan "human becoming".
Menjadi tua adalah pasti. Tetapi menjadi dewasa adalah pilihan. Begitukah?



21 komentar:
dewasa secara emosi itu yg rada sulit lho. usia tua saja gak jamin kita dewasa secara emosi.
dewasa kadang diartikan bertanggung jawab, bisa mengerti orang lain, mungkin memang semuanya pilihan. Tapi ya setuju, jalani saja...
hakikatnya dewasa itu bukannya umur yg sudah tua, tp pola pikir manusia yg lebih tenang dalam menyikapi sesuatu,menurut saya itulah dewasa...
Happy B'Day Ajeng...
assalamu'alaikum Mbak Ajeng,
saya rasa penjelasan di atas sudah sangat gamblang tentang arti kedewasaan. Menjadi dewasa dalam bertindak, bertutur kata dan memecahkan masalah membutuhkan sebuah proses yang dibutuhkan keshalihan pribadi yang dengan itu Insya Alloh bisa membiaskan kemanfaatan secara sosial
Mbak Ajeng ultah tgl 14 Agustus ya?
Wah, dapat kado nih...
Kedewasaan seseorang tak dapat dilihat dari umurnya ya, mbak?
kira kira aku udah dewasa belum ya hihihihihihii...
saya suka 3 kriteria dewasa "bagaimana dia dalam menyelesaikan masalah, bagaimana dia menempatkan diri serta bagaimana dia dalam pengaturan emosinya."
semoga asya juga bisa jauh lebih dewasa, bagiku mba ajeng dah dewasa banget kok hehe
Bertambah usia maka berkurangnya 1 lagi kita didunia ini..
Perbanyak amal dan kebaikan...semoga kita bisa melakukannya dengan iklas dan sabar.
Bertambah umur tidak menjadikan kita semakin dewasa terkadang ada yang lebih seperti kekanak-kanakan..karna itu kenapa kita dari kecil selalu di ajarkan bagaimana menjadi anak dan manusia yang bertanggung jawab.
dewasa identik dengan ikhlas...
knp dewasa itu pilihan???
salam kenal....
selamat ulang tahun ya mbak he3 salam kenal
14 agustus ultah? wah ngucapin dulu lah? dirgahayu ya mbak, semoga umur yg tersisa semakin barokah.
bahasan tentang kedewasaan memang abstrak, baru dari tulisan mbak ajenglah saya mulai memahami apa itu dewasa.
kata mentor menulis saya dewasa itu terletak pada pemaknaan "dosis" ... dosis kekanakan yg berkurang, dosis tanggung jawab yg bertambah...
dosis mana yg berkurang dan dosis mana yg bertambah menjadikan kata dewasa itu semakin jelas maknanya.
met siang...apa kabar?
kunjungan perdana, met menjalankan ibadah puasa,,:D eh gak nyambung y dgn postingan,,
dhe tlt baca postingannya mba ajeng.
memang benar ya mba, masa tua itu pasti, tp dewasa itu? butuh waktu mungkin. hehehe
Aku setuju banget sama tulisan mu sob B)
dewasa itu kalo menurut saya simple saja aslalkan dia bisa menempatkan segala sesuatu proposional,sesuai dengan tempatnya insya Allah dia sudah mencapai kedewasaan........
mampu mnenyelesaikan masalah belum tentu itu sebuah kedewasaan....anak anakpun kadang mampu menyelesaikan masalahnya sendiri......
ya ya....sepakad ane gan ma anda .......bertanggung jawab ..... di tunggu kunjungan dan folback nya di
http://majupendidikanindonesia.blogspot.com/
ass
kadang salah duga, dewasa berarti tua
kadang yang masih muda sudah bersikap lebih dewasa.
marhaban ya ramadhan
selamat berpuasa mba.
follow sukses thnks
dewasa dan tua, apa bedanya?
makasii pencerahannya.. jadi tau kalau persamaan homo sapien nii adalah Homo luden, makhluk yang bermain... emang manusia tu doyan maen :(
kesini lg
Poskan Komentar