Sophie's World
Assalamu’alaikum teman-teman ^_^
Alhamdulillah.. Pada akhirnya saya bisa juga menyelesaikan novel Sophie's World (Dunia Sophie), walaupun untuk itu saya memerlukan waktu yang lumayan panjang. Selain bukunya yang memang lumayan tebal (798 halaman), juga karena novel ini membutuhkan ‘pencernaan’ yang lebih dibanding novel-novel yang lain. Secara novel ini memang sebuah novel filsafat. Oleh sebab itu saya harus mengulang beberapa kali untuk bisa ‘mengerti’ maksudnya, itupun dibeberapa bab saya masih blank :)
Gambar : hasil browsing di google
Apa sebenarnya yang menarik dari Sophie's World (Dunia Sophie)? Mungkin, untuk sebagian orang, novel filsafat itu menarik karena berhasil menyederhanakan pembahasan filsafat yang rumit ke dalam bahasa yang sederhana. untuk sebagian yang lain, Sophie's World, yang ditulis oleh Jostein Gaarder dan menjadi best seller di manca negara, menjadi menarik karena pengarangnya berhasil memainkan rasa penasaran para pembaca.
Kalau untuk saya, yang kebetulan mendapatkan buku ini ketika ‘jalan-jalan’ di Jogja, buku itu menarik karena dua alasan. Pertama, saya amat terkesan ketika Albert Knox menulis untuk Sophie, gadis berusia 14 tahun, "Banyak manusia yang hidup di dunia dengan cara yang sama anehnya dengan pesulap yang menarik seekor kelinci keluar dari topi yang kosong. Dalam kasus kelinci itu, kita tahu pesulap telah mengerjai kita. Yang ingin kita ketahui adalah bagaimana dia melakukannya. Berbeda dengan dunia kita. Kita tahu bahwa dunia bukanlah tipuan tangan sebab kita ada didalamnya; kita bagian dari dunia itu. Sebenarnya, kitalah kelinci putih yang ditarik keluar dari topi. Bedanya, kelinci itu tak sadar bahwa itu bagian dari sebuah tipuan sulap. Tidak seperti kita, kita menyadari bahwa kita adalah bagian sesuatu yang misterius dan kita ingin tahu bagaimana itu semuanya berjalan." (Jostein Gaarder, Sophie's World, Mizan Pustaka, Bandung, 1996, hal. 44)
Rasa ingin tahu yang dilukiskan di atas membawa kita untuk menggunakan akal kita. Hanya saja, Gaarder secara cerdik menulis cerita Sophie's World itu dengan sejumlah daya imajinasi yang sama sekali tak masuk akal. Bagaimana tokoh kartun bisa hidup di depan Sophie, bagaimana dunia bisa berubah ketika ia minum salah satu cairan dan bagaimana Sophie dan gurunya, Albert Knox, bisa lenyap dan ganti memata-matai Hilde dan ayahnya. Tapi justru inilah alasan ketertarikan saya yang kedua.
Dunia Sophie merupakan perpaduan dunia rasional dan dunia irrasional sekaligus. Saya kembali teringat akan Dunia Sophie di bulan Ramadhan ini. Bulan Ramadhan seyogyanya bisa membawa kita menyadari, bahwa di tengah hidup kita yang kompetitif dan selalu berpacu dengan hal-hal rasional, ada sebuah ruang luas yang menyediakan tempat untuk dunia irrasional. Bisakah kita merasionalkan mengapa kita harus puasa? Sanggupkah akal menjelaskan bahwa makanan dan minuman yang halal itu tiba-tiba tidak boleh kita nikmati untuk sementara waktu. Adakah penjelasan yang memuaskan rasio kita ketika dalam hadis Qudsi Allah berfirman, "puasa itu untuk-Ku!"
Dunia Sophie mengajarkan kita bahwa hidup ini tidak melulu berdasarkan hitungan rasional. Bulan puasa menjadi momen kita untuk menghela nafas sejenak dan merenungi sikap kita yang selalu mendewakan rasionalitas.
Di atas saya sudah mengutip Dunia Sophie, lalu bagaimana dunia menurut Fariduddin Aththar (saya baru menemukannya setelah browsing)? Sufi besar yang hidup pada abad ke-12 ini menulis, "Dunia ini ibarat tenda kafilah dengan dua pintu: engkau masuk dari satu pintu dan keluar dari pintu lainnya...Meskipun engkau seorang Iskandar Agung, dunia sementara ini kelak akan memberikan kain kafan bagi segenap keagunganmu..."
Fariduddin Aththar benar! Karena akal yang kita dewa-dewakan pun akan berujung pada sebuah kain kafan.
Kalau menurut teman-teman?


7 komentar:
Dunia ini ibarat tenda kafilah dengan dua pintu:wah kata2 yg bertulis merah itu,,menginsfirasi bgt
dr covernya dhe kira itu novel2 yg bercerita ttg dunia2 khayal/magic gt, dhe ga terlalu ngerti novel filsafat, sptinya ini menarik ya mba. Dhe pengen coba lihat.. hehehehe..
Novel tentang filsafat emang harus benar-benar orang yang tau baru bisa mencernanya dengan baik , kalau bacaan ini di kasih sama mb..hmmm gak jamin reviwnya bisa jelas.
Waalaikumsalam,
hmmm... emang filsafat lebih susah dimengerti dibanding Akuntansi ato Fisika. Tapi kalo udah ngerti sekali, ga ilang2...
Akal dan Hati itu adalah pasangan yang luar biasa, akal dapat menghasilkan banyak hal yg bermanfaat bagi manusia lainnya di dunia bahkan kalo udah mati, sedangkan hati yang bersih yg ditunjukkan dg akhlak mulia akan memberikan tauladan bagi manusia lainnya yg bermanfaat hingga akhirat, meski empunya udah meninggal...
Salam kenal, salut buat keberhasilannya...
Wah mbak Ajeng, saya punya buku itu sudah lama beberapa tahun yg lalu, tapi saya masih saja senang dan sering membacanya lagi.Karena kalau sehabis membacanya seperti mendapat pencerahan lagi tentang hakikat hidup dan misteri kehidupan dalam keagungan yang tak terbatas Sang Maha Pencipta.
catatan yang sejuk di baca...
wah saya direkomendasiin untuk baca itu,tapi gatau harus beli dimana... salam kenal mba,saya adit,temennya antaresa
Poskan Komentar