Aku dan hobi memasakku

Assalamu’alaikum teman ^_^
Saya suka memasak. Catat ya, saya hanya ‘suka’ memasak. Dan ‘suka’ disini belum tentu berkorelasi dengan mahir memasak lho. Itu artinya belum bisa dipastikan apakah yang saya masak itu enak atau sangat enak. Hehehe… Ya intinya, saya suka memasak saja sih. Memasak apa saja sebenarnya, tapi lebih suka memasak makanan dalam arti bukan kue, walaupun ada kalanya membuat kue juga.
Padahal dulu saya tidak suka memasak, yang saya suka hanya makan saja :) Saya mulai menyukai memasak saat duduk di bangku kelas 3 SMP. Awalnya karena dipaksa, lebih tepatnya dipaksa almarhumah nenek saya. Kata beliau, perempuan itu harus bisa memasak. Minimal ‘bisa’, akan lebih bagus kalau mahir. Pertama, untuk memastikan kehalalan dan kebersihan makanan yg dikonsumsi keluarga kita. Kedua, dengan makanan yg kita masak kita bisa mengikat cinta keluarga kita. Ketiga, dengan memasak kita bisa belajar tentang kehidupan.
Untuk dua alasan pertama saya bisa menerima, karena pada kenyataannya memang demikian. Dengan memasak sendiri kita bisa memastikan bahwa hanya makanan sehat dan halal yg dikonsumsi keluarga kita. Lalu yg kedua, apabila kita memasak dengan perasaan ikhlas dan cinta, keluarga kita juga akan merasakan cinta dalam masakan kita. Lalu dari mereka akan terangkai doa untuk kita. Nah, alasan yg ketiga itu yg masih sulit untuk saya terima. Belajar kehidupan dari memasak, how could?
Sampai suatu saat saya menonton sebuah dorama (sinetron Jepang) yang berjudul Azuka (saya lupa tahun berapa), yg bercerita tentang sebuah keluarga di Osaka yang mempunyai usaha sebagai pembuat kue tradisional Jepang. Dari sanalah saya belajar filosofi memasak. Satu yang saya mengerti bahwa memasak pun butuh jiwa di dalamnya. Pada saat memasak kita memberikan hati, memberikan jiwa pada masakkan kita. Bila hati kita tenang, penuh konsentrasi, maka masakkan yang kita buat akan terasa lezat. Namun apabila saat kita membuatnya dengan emosi negatif (misal habis bertengkar) maka niscaya masakkan itu pun akan terasa tidak enak, penuh energi negatif di dalamnya.
Lalu saya mulai paham bahwa memasak itu memang hampir sama seperti kita menjalani kehidupan, disana ada proses, ada kesabaran. Kita adalah “bahan dasar”, kehidupan yg kita jalani adalah bumbu-bumbunya. Kala kita beranjak besar dan mulai sekolah (dari SD sampai perguruan tinggi) adalah “bumbu-bumbu” yang ditaburkan kepada kita dari sebuah “masakan” kehidupan, hingga suatu saat kita akan “dihidangkan” kedalam sebuah “perjamuan” kehidupan yang sesungguhnya.
Didalam memasak kita juga diajarkan proses, mulai dari menyiapkan bahan, sayuran, memotong bumbu-bumbu hingga yang lainnya dan itu sama dengan hidup kita sendiri yang mana hidup adalah berproses sedikit demi sedikit, bertahap dan tidak serta merta langsung menjadi “makanan” jadi. Ada sebuah proses didalam hidup kita. Sebuah proses yang harus benar-benar kita lakukan untuk mendapatkan “cita rasa” yang pas dalam hidup kita, kita harus benar-benar menjalani hidup kita sebagai bagian dari proses hidup agar kelak nanti ketika dewasa kita menjadi seorang manusia yang berguna, bermanfaat, dapat “dinikmati” dan dapat membuat orang disekeliling kita nyaman dengan diri kita. Dalam memasak juga kita diajarkan untuk menggunakan kesabaran kita, masakan yang akan kita masak tidak akan menjadi baik dan enak ketika kita terburu-buru dalam memasaknya, dan dalam hidup pun seperti itu dalam proses kita diajarkan bahwa sebuah kesabaran adalah kesediaan untuk menjalani prosesnya satu demi satu.
Dunia ini diciptakan berproses. Kesabaran berarti menikmati proses tersebut. Kita tak bisa mendadak menjadi kaya, pandai, dan sukses dalam suatu hal tanpa proses. Kita harus mau bersabar menjalani prosesnya dari hari ke hari. Ada yang bilang ‘kesabaran adalah saudara kembar dari keberanian bertindak’. Kesabaran adalah denyut nadi yang menentukan seberapa lama keberanian untuk terus mencoba, tetap bertahan dalam diri seseorang. Kalau kita bersabar kita akan menikmati saat-saat terindah dalam hidup kita.
Saat ini dan mungkin di waktu yang akan datang, kita akan dihadapkan pada peristiwa atau permasalahan yang menuntut bukan hanya agar kita bersabar, tetapi juga bertindak. Namun percayalah, bahwa apapun peristiwanya itu adalah ‘bumbu’ yang akan membuat kita semakin ‘sedap’ dan ‘matang’ kedepannya. Semoga... Wallahu a’lam...
====================================================================
Kediri, petang hari sehabis selesai memasak nasi goreng sosis


30 komentar:
Filosofinya masuk akal, aq yg tiap ari emang harus berurusan dgn masak kdng msh keasinen gara2 nglamun. Bagaimana suasana hati saya bs diliat dr masakan saya hehe
bener. karena saat kita memasak dg terpaksa maka hasilnya pun ada kemungkinan tidak enak, tetapi saat kita memasak dg hati maka akan terasa hasilnya.
Memasak berarti memberikan kebaikan pada orang lain
@Tarry KittyHolic : Terima kasih mbak.. Kayaknya memang begitu sih :)
@Sang Cerpenis bercerita : Iya, sering mengalami itu :)
@Big Sugeng : Betul Pak…
aku dan hobi makan gratis ku...
Aku juga gak mahir memasak mbak, aku juga sekedar bisa.
Aku setuju bahwa kita belajar utk berproses dalam memasak, demikian juga hidup kita. :)
Apa kabar mbak..?
hm....penasaran dengan masakan mb ajeng!!! hehehehehe spesial delivery to bali mba!?!??!
aku juga suka masak loh..
ass
sip sama dunk mba suka memasak
kalau saya masak sendiri tanpa msg
tapi kalo suka berarti sering mencoba dong
kalo sering mencoba berarti lebih cepet pinter
hehe malah mbulet
Kehidupan kalau statis tentu tidak akan sedap. Sementara hidup yang penuh dengan dinamika silih berganti dengan berbagai warna yang menghiasinya akan membuat kita menjadi lebih berpengalaman dalam menjalani kehidupan.
Sama seperti memasak ya, semakin berpengalaman memasak maka masakan akan menjadi lebih bervariasi baik dari segi rasa, sajian dan resepnya.
InsyaAllah.. saya juga suka memasak :), memasak adalah kehidupan kecil.
aktif ngeblog lagi ya mba ajeng .. selamat :)
Diantara beberapa hal yang tidak saya kuasai sama sekali, salah satunya adalah memasak. Nda mudeng dan nda telaten, Mbak.
suatu pekerjaan yang dilakukan karena terpaksa tidak akan memberikan hasil yang maksimal
apalagi masak, bisa saja karena terpaksa masak masakan dibikin asin
salam dari pamekasan madura
saya juga suka memasak, terlebih masak kue hehe ... Disini saya belajar juga filosofi memasak. Mbak, tulisannya 'bernas'. Like this. Banget! Alhamdulillah ...
terlalu banyak bumbu bukan jaminan menjadi enak, tetapi kekurangan bumbu juga akan menjadi tidak enak. keseimbangan dalam menjalani proses itu sangat perlu.
Saya belajar masak belum bisa banget padahal tertarik banget sama dunia masak memasak :(
Mapir balik ya mba
Bener Jeng...karna bila kita memasak kita hanya memerlukan kesabaran dan keiklasan dalam melakukannya. jika dua ini kita pegang maka masakan kita pun akan terasa lebih nikmat....
Mb dulu juga dulu gak bisa masak, masih inget waktu smp kalau pulang harus bantu ibu di dapur dengan bumbu yang sudah tersedia tentunya..
Tapi lama-lama mb harus di tuntut untuk bisa masak dan alhamdullilah meskipun tidak begitu hebat tetapi bisa masak buat suami dan anak yang bisa membuat mereka selalu rindu akan masakanku.
haha, jadi inget kalo di rumah suka "ngebantuin" bunda memasak (meski cowok)...
katanya masakanku lebih enak loh, waktu aku masak air banyak yg muji begitu... hehe yg ni j`kiddin`
*terima kasih telah berkomentar di blog saya...:P
Nasi gorengnya masih ada, Mbak? *ngitung hari, nunggu ketemu Mbak Ajeng n dimasakin :D
Memasak juga bisa menekspresikan diri ..salam kenal
Memasak ... mengekspresikan diri
Saya juga suka memasak.. terkadang mencoba untuk memvariasikan masakan.. tetapi kadang suka malas kalau masih ada yang masakin hehe.. paling senang masak mie, sama nasi goreng karena itu favorit saya...
apapun ceritanya seorang wanita,, kalau tdk pinter memasak,,dia bukan seorang wanita sejati,,lohh,,
sama kalau gitu, aku juga suka masak..
tapi bukan ahli memasak.
cuma masak apa yang ada di kulkas aja.
cuma sekarang ini mengurangi makanan yang digoreng.
nurunin kolestrol heheh
hadir kembali,,blum ada yg baru y mbak ajeng
wa'alaikum salam, aku setuju, seperti memasak "cinta" agar selalu hangat saat disajikan :)
sama mbak q juga suka banget memasak tapi sering keasinan gimana nich!hehehe
salam kenal gan kunjungan awal..
cerita yang tentang makna ketulusan dalem sekali ya.. :-)
sampe malaikat pun nggak berani ngejawab..
Poskan Komentar