Sebuah catatan pagi…
Assalamu’alaikum teman-teman ^_^
Tanpa sebab pasti, tiba-tiba ba’da subuh tadi dikepala saya muncul satu pertanyaan yang sepertinya sulit terjawab. Hanya satu pertanyaan : “Siapa aku ?” Nah lho, apa iya saya amnesia lalu lupa nama saya? Atau tiba-tiba saja saya merasa menjadi ABG labil yang sedang mencari jati diri? Tidak, bukan begitu... Tapi mungkin juga ini gara-gara semalam saya membaca lagi “Dunia Shopie”.
Dalam perjalanan hidup dan aktivitas sehari-hari, dalam kepenatan hidup dan segala problematika yang kita hadapi. Ada kalanya untuk sejenak kita perlu beristirahat untuk menguatkan diri agar bisa melangkah lebih pasti ke depannya. Instrospeksi diri, pengaduan diri, pencurahan emosi dan pikiran. Merenungkan diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menyelusup dalam qalbu, yang kadang lebih sering kita abaikan. Ketika menyelami diri dalam perenungan, akan berakhir pada sebuah pertanyaan yang paling mendasar “Siapa Aku? Mau ke Mana Aku?“.
Coba pikir, bukankah kita sering tidak paham siapa kita? Oleh karenanya kita lalu punya tradisi untuk mengasosiasikan sesuatu terhadap diri kita: nama, profesi, titel, jenis kelamin, warna kulit dan rambut, foto wajah (seperti yang di KTP, our identification). Kita melabeli diri kita dengan sesuatu itu, kita pun nyaman dengan label itu, lalu merasa bahwa label itulah diri kita. Think again: apakah ‘aku’ sama dengan ‘tubuhku’? [halah, pertanyaanku menjadi semakin enggak jelas].
Ilmu saya belum sampai untuk membahas hal-hal sufisme seperti ini, namun saya meyakini pertanyaan inilah yang sering kita temui dalam masa-masa perenungan. Melalui perenungan inilah pertanyaan itu terjawab, terkadang terjawab dalam kata. Namun terkadang tidak bisa diungkapkan dalam kata-kata, tetapi kita yakin bahwa ini terjawab. Tetapi yang lebih sering adalah pertanyaan itu tidak terjawab. Karena inilah kita [mungkin terutama saya] memerlukan untuk terus melakukan pencarian dalam perenungan. Sebuah pencarian dalam sebuah perjalanan, Inner Journey. Pencarian yang tiada akhir..
Karena keterbatasan ilmu pula pada akhirnya saya menjawab pada diri saya sendiri, siapapun ‘aku’ pada akhirnya saya hanyalah manusia yang diciptakan Allah untuk tujuan yang besar, untuk beribadah hanya kepada Allah. Makhluk yang berulang kali diperintahkan oleh Allah untuk berpikir, berpikir dan berpikir. Bukankah dengan itu kita menjadi makhluk yang sempurna. Hanya itu yang saya tahu…
Maka tugas saya hanyalah beribadah, salah satunya dengan memaksimalkan nikmat-Nya yang tiada tara. Dan inilah yang akan membawa kita pada sebuah way of life untuk melangkah lebih pasti. Dan semua ini bermula dari ‘Who I am’ & ‘Why‘ lalu akan terjawab pula pertanyaan berikutnya ‘Mau ke Mana kita?“
Jadi ingat tulisan ini :
Knowing others is wisdom
Knowing the self is enlightenment.
Mastering others requires force
Mastering the self requires strength.
- Tao Te Ching
=========================
Kediri, sebuah catatan tidak penting menjelang pagi sambil ditemani alunan ‘Koi’ dari Kitaro.



18 komentar:
pertamax...
siapa aku,,hmm jawabnya ada di hati kita yg paling dalam,,mencoba merenung terus renungkan siapa kita dan untuk apa kita ada,,hehe ntah lah
Kenalilah diri sendiri maka engkau akan mengenal penciptaNya.......
http://hartantosblog.blogspot.com/2011/07/siapakah-aku.html
yang jelas kita membawa amanah besar dalam hidup ini :)
Blog yang berisi artikel informatif dan menarik untuk dikunjungi... :)
Blog ini sudah saya follow, kunjungi dan follow balik yah...
Makasih yah, udah kunjungi blog ku,,,
senang juga mengunjungi bog mu.
keren.
siapa aku...dan kenapa aku bisa seperti ini, jawaban hanya ada pada diri kita sendiri tentunya.
menjadi lebih baik emang susah tapi tidak boleh kita mnenyerah untuk menyelamatkan diri kita.
who am i kayak judul pilem jackie chan.. itu sebenarnya pertanyaan yang sangat penting.. kita sebagai manusia kebanyakan membaca orang lain.. sedangkan untuk membaca diri sendiri atau ngilo githoke dhewe.. jan blas ndak pernah kita lakukan..
wow this really good blog content
wow this really good blog content
Label, seringkali kita terjebak pada label untuk menjelaskan siapa identitas kita.
Termasuk hamba tuhan pun label. Apakah benar kita hamba tuhan? Atau kita hanya mengaku-ngaku, memasang label itu pada diri kita agar kita merasa nyaman?
*mikir *dalem *nyingkir
lam kenal j yach!
thanks infonya
numpang lewat mbak y!
Amazing artikel, Infonya bagus banyak mengandung Tips dan Pesan yang bermutu. salam sukses
Saya menemukan Artikel hebat di wibesite ini jadi ingin coba Tipsnya. Semoga berhasil
Artikel Menarik terutama Infonya, boleh dicoba. Salam sukses
Poskan Komentar