Menuliskan apa yang aku lihat, dengar, rasakan dan pikirkan...

Menilai Ketulusan

Assalamu’alaikum …

“Sok ramah, enggak tulus banget senyumnya...” kata-kata itu saya dengar sepintas dari seorang teman selesai menjawab sapa teman lainnya yg melintas.

Gambar: saya ambil dari Google


Saya yakin, kita pernah bahkan mungkin sering mendapat pujian, keramahan atau perhatian dari orang sekitar kita. Saya juga pernah, dan karenanya saya menulis ini. Bukan tentang pujian itu sendiri tapi tentang diri ketika menerima pujian itu

Ketika mendapat pujian tertentu, sempatkah terbersit dihati sebuah ragu, ”Ah, jangan-jangan orang itu tidak benar-benar memuji, bermanis-manis dengan maksud dan tujuan tertentu. Mereka tidak tulus memuji..bla..bla..bla..”

Astaqfirullah… Kenapa kita bisa meragukan ketulusan seseorang? Siapa pula kita ini yang berhak dan merasa bisa menilai seseorang itu tulus atau tidak?

Dan jika, katakanlah, mereka benar tidak tulus terhadap kita, lalu kenapa? Apa ruginya kita? Toh mereka hanya berusaha menjaga sikap dengan menyenangkan hati orang lain? Tidakkah kita pun akan menjaga sikap pula untuk sekedar berbasa-basi? Yang tentu saja tanpa terjebak untuk menjadi munafik.

Idealnya, seharusnya memang sama antara yang diucapkan dengan apa yang dilakukan. Tapi kalau ternyata mereka mempunyai alasan lain untuk berbuat itu, bukan berarti kita boleh menilai mereka tidak tulus bukan? Dan bahkan jika mereka ternyata benar-benar tidak tulus, biarlah itu menjadi urusan mereka. Kita tidak lantas harus membiarkan diri terbebani dengan bisikan-bisikan apakah mereka tulus atau tidak, yang justru hal itu akan merusak hati kita.

Jadi teringat cerita ustadz saya ketika saya kecil : Ketika seorang sahabat pernah bertanya pada Rasulullah tentang makna dan hakikat ketulusan, atau yang lazim disebut pula keikhlasan. Saat itu Nabi sall-Allahu 'alaihi wasallam tidak langsung menjawabnya, melainkan berjanji untuk menanyakannya terlebih dahulu pada Malaikat Utama, Jibril 'alaihis salam. Jibril yang ditanya oleh Nabi Sall-Allahu 'alaihi wasallam akan makna ketulusan ini pun, tidak berani langsung menjawabnya, dan berkata bahwa ia akan menanyakannya pada Mikail 'alaihissalam. Demikian pula Mikail pun tak berani langsung menjawabnya, dan terus bertanya kepada 'Izrail 'alaihissalam. Dan 'Izrail pun bertanya pada Israfil 'alaihissalam, hingga yang terakhir ini pun tak mampu menjawab langsung, dan menanyakannya langsung pada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Apakah jawaban Allah? ‘Huwa sirru min asraarii’. “Dia (Ketulusan) adalah suatu rahasia di antara rahasia-rahasia-Ku". Ya, ikhlas/ketulusan adalah suatu rahasia antara Allah SWT dengan hamba-Nya. Jadi, hanya Allah yg tahu dan berhak untuk menilai ketulusan.

Karena seringnya kita [manusia] terjebak untuk menilai ketulusan seseorang berdasarkan definisi yang telah kita buat sendiri, sesuai dengan apa yang kita inginkan, sesuai dengan batasan-batasan yang telah kita tetapkan. Sehingga ketika ada yang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan batasan kita itu, kita lantas menganggapnya tidak tulus.

So, kenapa pula kita yang harus repot menilai ketulusan seseorang? Bukankah akan lebih mudah kalau kita serahkan saja sepenuhnya pada Dia Yang Maha Tahu untuk menilainya. Sebab kita, manusia, punya keterbatasan untuk bisa menilai. Karena memang ketulusan itu tidak memiliki alat ukur yang jelas, tidak ada indikator yang pasti yang dapat digunakan untuk mengukurnya.

Dan, bukankah sudah sering terbukti kalau ternyata kita sering salah menilai seseorang?

Kita bukan makhluk sempurna, jadi sebuah pujian tidak akan lalu menjadikan kita sempurna. Tapi sebuah pujian yang misalkan tidak tulus pun, juga tidak boleh menyakiti kita apalagi membebani kita. Kalau hal itu memang terbukti sebuah ketidaktulusan, semoga kita bisa menjadikannya sebagai pelajaran untuk menjadi lebih tulus lagi.

Kita seharusnya tulus..
Saya terutama seharusnya tulus…
Bukan justru meributkan apakah orang lain itu tulus pada saya atau tidak…

Al-Haq minnaAllah

38 komentar:

pujian yg tulus bisa membagkitkan motivasi seseorang,,dan membangun unsur positip,,dan itu juga bagian sedekah motivasi,,yg tak ternilai harganya..selamat pagi..mbak

Mungkin sama dengan niat mba, niat yang tulus akan berdampak positif, tapi meski memberi dgn niat tulus jika yang menerimanya orangnya suudzon jadi disangka ada maunya, dan memang kita ada maunya yaitu pahala dari Alloh SWT..

agak susah memang kalau yang kita nilai adalah hal yang tersembunyi dalah hati seseorang...kadang kita menilai a, namun isinya b..kadang nilai b, isinya malah a...

hati manusia itu relative..

mmmm....mmg kdg kala niat tulus suka disalah artikan... ttp berdiri dan berjalan lurus.. apapun itu, percayalh.. Tuhan tahu isis hati kita

semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT

Tulusnya seseorang dan kita kepada seseorang hanya hati dan tuhan yang tau. Apakah tulus atau tidak..

Bisa menilai orang belum tentu diri kita juga baik ...rambut sama hitam sati manusia siapa yang tau.
Meskipun kadang kita udah baik masih juga ada yg gak suka dgn kita.

Ajeng apa kabar, moga sehat2 aja dan lancar segala sesuatunya ya..

Ajeng mbak boleh tanyak gak...untuk menampilkan NetwirkedBlogs di dalam tampilan bolg kita gimana caranya seperti ajeng punya itu..
Mb udah kotak atik tapi gak muncul juga, karna gak tau juga hehehhe.

tulus itu bagus mbak... cuma kadang kita dihadapkan pada situasi hilang kepercayaan pada banyak orang karena sesuatu yg pernah terjadi
yah waspada juga penting sih :)

oh ya mbak huruf judulnya salah, hehe koreksi

Sebenarnya kita tidak perlu menilai orang lain apakah dia tulus atau tidak,justru yang penting adalah kita menilai diri kita sendiri apakah yang telah kita perbuat itu tulus ikhlas atau tidak?
Barometerya mudah saja,jika apa yang kita lakukan itu tidak berubah apakah di puji atau dicaci maka insya Allah itu indikasi kita telah tulus ikhlas.......

Dear.

gw sebetulnya merasa jengah atau apaaa yaaa namanya kalo mau ngomentari masalah hal ini........ entah iya entah gak...... apakah para blogger juga merasakan hal ini???? artinya..... apakah blogger juga butuh pujian??? atao menulis just a diary and no need any komen and sanjungan??? I've no idea..... sorrryyy yaaaaa ata komen gw ini...


regards.
... Ayah Double Zee ...

Wah bener sekali mbak.. Aku juga sering mendengar hal2 spt itu.
Kita memang tak berada dalam posisi berhak menilai ketulusan seseorang ya mbak?
Semoga saja aku tak lagi mempertanyakan ketulusan seseorang, tapi aku harus makin memantapkan diri utk melakukan apapun secara tulus.

pujian itu sebuah hal yang bagus. tapi kalo sering dipuji kita tidak bisa mengkoreksi diri kita jadi pastinya butuh kritikan juga .

Wah bingung mw komen apa yah, ketulusan mungkin kayak ibu menyayangi anaknya ya hehe...

pujian yg tulus bisa membagkitkan motivasi seseorang,,dan membangun unsur positip,,dan itu juga bagian sedekah motivasi,,yg tak ternilai harganya..selamat pagi..mbak

pujian adalah perbuatan yang disukai oleh allah, maka dari itu klau memuji seseorang harus tulus,okey, hehehehe.

Update kopdarrrr hehehehe

selamat berkurban
mohon maaf lahir bathin

baru pulang nguliti sapi, langsung BW
ayo semangaaaat

LEBIH BAIK MEMBERIKAN SENYUM YG IKLAS TANPA MENHITUNG APA YG TELAH KITA BERIKAN PD ORANG LAIN. HANYA ALLAHLAH YG BS MENGUKUR KADAR KEIKLASAN SESEORANG.

Salam
Ajeng ,mb datang bawa tuga yang harus id kerjakan sama Ajeng disini ya http://mulyanidiary.blogspot.com/2011/11/akhirnya-selesai-juga-pr-ku.html

salam...ajeng mb baw atuga yang hatus di kerjakan Ajeng disini ya http://mulyanidiary.blogspot.com/2011/11/akhirnya-selesai-juga-pr-ku.html

assalamualaikum.. mb boleh tukeran link? link mb udah ane pajang di blog ane

wah wah... aku sering banget suudzon.. eh ups, tapi suudzonku itu biasanya aku sok menganalisa dulu gitu, kalau ternyata analisaku bener, udah deh, didapatkan kesimpulannya kalau mereka ini begini begitu.. eeeeh.. ternyata suatu hari, orang itu ternyata gak seperti yang aku kira.. nah lo, memang ketulusan itu hanya dia dan Tuhan yang tahu..

yaiyalah seharusnya gitu.

mksih buat pencerahannya....

Kadang sulit membedakan "niat tulus" dan "akal bulus", hihihi...

Tulisannya keren, Mbak... ;-)

setuju sekali.. kenapa juga kita meributkan masalah tulus atau tidaknya seseorang :)
hanya berpikir positif aja terhadap pujian ataupun komentar dari seseorang,toh Allah yang Maha Tahu..

Hi Mba Ajeng, apa kabar? Sehat? Duuuhhh ekye dah lambrea ga mampir dimari. Maap yah Mba, coz setelah punya buntut 2 emang susye banget mo ngeblog, apalagi ber-BW ria :-)

Setuju Mba. Kita ga akan pernah tau orang itu ulus ato ga. Tapi, at least ga usah nambah2 dosa dengan mikirin hal ga penting kaya gituh. Anggap ajah semuanya dilakukan dengan tulus

Kiss kiss buat Aunty Ajeng dari Double Zee. Mmmuuaacchh

kadang apa yg dilihat mata gak sesuai dengan sbenarny.
Serahin sm allah saja, biar dia yang menilai
=)
salam kenal mb
=)

ya,..............betul yang tahu tulus atau enggaknya kan cuman dia sendiri

kunjunan awal salam kenal gan...

Memang susah menentukan ketulusan hati..
Hanya yg diri pribadi & Yg maha Tahu yg mengetahuinya.

Salam kenal untuk Mba Ajeng.

pujian hanya milik Allah. jiga kita ikhlas. jangan berharap banyak

Link blog mbak ada di blog aku,,kok link aku enggak ada??

begitu berharganya arti ketulusan atau iklas sehingga Nabi SAW harus bertanya dahulu kepada mlaikat jibril

hmm... berarti gak ada ya yang ngalahin ketulusan?

semua bukan tergantung dari kata2 tapi dengan perbuatan kita dapat menilai ketulusan seseorang.
nice banget kak

itu tandanya kita masih punya hati dan logika... nah jangan di bentrok-kan dengan keinginan.. hihi

Ikhlas... memang suatu perbuatan yang tak ada ruginya....