Menuliskan apa yang aku lihat, dengar, rasakan dan pikirkan...

[repost] Tentang menjadi seorang ibu..


Tidak sengaja, sore kemarin disebuah perempatan jalan saya melihat seorang ibu dengan 2 putra diboncengan motornya. Sebuah keranjang besar ada dibawah kakinya, sepertinya belanjaan (jika dilihat banyaknya barang yg dibawa barangkali beliau seorang pedagang). Mungkin beliau baru menjemput sang putra (karena putranya masih berseragam sekolah) sekalian belanja untuk keperluan dapur atau keperluan dagangannya. Saya tidak tahu bagaimana kehidupan ibu tersebut, yang ada dipikiran saya hanya betapa tangguhnya ibu tersebut.


Ibu seperti itu ada dimana-mana, bahkan mungkin didekat kita sendiri. Mereka adalah ibu-ibu tanpa pilihan (tapi saya yakin itu juga adalah pilihan). Meraka adalah ibu-ibu yang harus menjalankan kedua fungsi secara bersamaan. Fungsi domestik yang mengajarkan kelembutan dan fungsi publik yang menuntut kekerasan. Mereka kebetulan bukanlah perempuan yang dimanjakan dengan ‘fasilitas’ suami sehingga mereka bisa mengayun anaknya sambil menonton gossip dan mencoba resep baru dari majalah. Mereka bukan ladies who lunch di café lalu keluar masuk butik.

Teman saya (yang memutuskan menikah ketika masih semester tiga) adalah seorang ibu muda dengan 1 putra dan seorang lagi masih ada didalam kandungannya ketika takdir mengantarkannya menjadi seorang janda setelah sang suami meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dia yang ceria dan lincah itu lalu berhenti menangis untuk kemudian mengambil alih peran sebagai kepala keluarga untuk keluarga kecilnya. Alhamdulillah sekarang dia sudah menemukan lagi seorang yang insyaAllah akan menjadi imamnya. Semoga calonnya ini kelak akan mengambil beban yg sudah sekian tahun tersampir dipundaknya.

Teman dan ibu diperempatan jalan itu telah memaksa saya untuk merenung. Siapkah saya dibawa takdir ke dalam situasi yang sama? Siapakah yang bisa kita tuntut kalau sudah takdir yang berbicara?

Ibu saya sendiri telah mengajarkan pada saya, bahwa hidup tidak melulu tentang tuntut menuntut jika telah berhadapan dengan sebuah amanah indah bernama anak. Yang mungkin oleh kaum feminis akan dikecam sebagai perempuan yang tak tahu haknya atau bahkan perlu dikasihani karena tak punya pilihan untuk sekedar mendapatkan haknya.

Dulu setiap hari saya selalu melihat ibu saya pagi-pagi sekali sudah mempersiapkan sarapan, seragam dan bekal anak-anaknya sebelum kemudian berangkat kepasar membuka lapaknya (kebetulan ibu saya adalah pedagang). Ketika saya tanyakan kenapa harus berdagang padahal harusnya menafkahi keluarga adalah tanggung jawab suami? Beliau menjawab “Dan bapak sudah menunjukkan tanggung jawabnya kan? Bapak sudah menafkahi kita dengan baik. Ibu bekerja bukan untuk mencari nafkah, tapi hanya untuk memastikan kalau kalian nanti akan terjamin sekolahnya. Kita tidak mau yang buruk terjadi, tapi siapa yang tahu akan masa depan? Ibu tidak mau jika terjadi sesuatu dg bapak, ibu kebingungan untuk menafkahi kalian. Kalaupun Bapak baik-baik saja, itu pinta kita semua, setidaknya ibu bisa membantu menambah tabungan untuk sekolah kalian”.

Alhamdulillah ya Allah, telah Engkau tetapkan kami lahir dari sosok sabar, tegar dan berpandangan ke depan seperti ini. Karena banyak yang tidak seberuntung kami.. Duh Allah semoga tidak akan pernah habis anugrah-Mu kepada keluarga kami.

Mereka bukanlah sosok yang dengan penuh semangat berbicara tentang menjadi perempuan tangguh dan tegar dipodium seminar-seminar, mereka juga bukan feminis yang meneriakkan kesamaan gender. Namun mereka dengan kelemah lembutannya justru menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah sosok tegar dan tangguh yang dengan atau tanpa diminta sanggup mengerjakan peran apapun sepanjang sesuai dengan syari’. Mereka menunjukkan kesetaraan gender yang sesungguhnya (saya lebih nyaman menyebut kesetaraan dari pada kesamaan, karena laki-laki dan perempuan memang tidak akan pernah bisa sama).

Semua melulu atas nama cinta pada Penciptanya dan sesosok kecil bernama anak.

Maka kelak, jika saya dijinkan-Nya menjadi seorang ibu, saya hanya ingin menjadi seorang ibu sejati, dengan segala fungsi yang bisa saya jalankan demi keluarga.

Ehm..kenapa tiba-tiba saya ingin mendengarkan lagu Ibu milik Iwan Fals ya?

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh.. Lewati rintangan bagi aku anakmu.. Ibuku sayang masih terus berjalan.. Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah.. Seperti udara kasih yang engkau berikan
..Tak mampu ku membalas ibu, ibu..

====================================================

Tulisan ini pernah saya posting disini, tapi sangat ingin memposting ulang dirumah bunga ini dan mendedikasikannya untuk para ibu, wanita calon ibu dan muslimah yang luar biasa diluar sana. Jangan malu untuk menjadi seorang wanita, jangan malu untuk menjadi seorang muslimah dan jangan malu untuk menjadi seorang ibu. Wanita harus ikut berperan bersama pria dalam membangun peradaban manusia. Karena wanita ada dalam peradaban itu sendiri..

26 komentar:

Ibu adalah sesosok malaikat yg diciptakan Tuhan...
:)

waaahhhhhhh jadi inget bntar lagi 22 desember!!!!!

bagaimana dengan mba ajemg??!? sudah menjadi ibukah heheheheheh?!?!

Ibu adalah segalanya....
dapat memahami kondisi kita tanpa kita sadari,
ibu memang hebat... :)
bentar lagi hari ibu.. :)

Salam...Ajeng apa kabar.

Betul Ajeng, Ibu bisa melakukan segala hal..yang mungkin Bapak tidak bisa melakukannya.
Setelah mb menjadi ibu, baru tau gimana rasanya ketika ibu mb dulu...bekerja keras untuk keluarganya dengan 6 orang anak.

mb aja satu rasanya udah kewalahan, dan sekarang sudah akan bertambah 1 lagi.
Tapi mb tetep selalu berdoa semoga mb selalu di beri kekuatan untuk menjalani ini semua dan bisa menjadi ibu yang baik buat anak-anak mb.

Assalamua'alaikum bu guru, yo opo kabare :) Btw nice post met hari ibu tuk nanti ya :)

assalamualaikum bu.. silaturahim kemari..

Kita rasanya tidak akan pernah bisa membalas semua kasih sayangnya ya mbak....

cuma numpang lewat nie,,liat" back link kook enggak ada nama aku yow
link mbak emang enggak ada di hoiron.info soale blog aku tak pindah ke http://blog.hoiron.info/ jadi semua ada disitu
monggo dicek

selamat hari ibu, semoga kita bisa jadi anak yg lebih berbakti

ibu memang sosok hebat bagiku
knjungi blogku jg y mba

satu hal yang ingin saya banggakan dari seorang ibu adalah ketulusan dan keikhlasannya dalam memberi dan mencintai. mereka selalu memberi lebih dan tak pernah berharap kembali kepada anak2nya.

ada baiknya ibu mbak dicontoh buat anak" mbak nantinya,,kalo bisa lebih baik..terus semangat
Selamat hari ibu *telat

mampir ke blog aku yaa,,link mbak masih ada disana jadi link balik lagi yow
:D

dan saya bangga menjadi seorang wanita :)

ibu adalah org no 1 yg selalu ada untuk aku di saat senang penat duka sedih kau slalu hadir untukku :D


Ditunggu ya kunjungan baliknya ke http://century21.co.id

selamat hari ibu :-)

kangen ibu.....mbak p kbr???

Hmmm.. tidak diragukan lagi.. :) Ibu selalu sosok yang luar biasa. *can't speak anything..*

ibuku sering kontroversi pendapat sama aku, tapi yg namanya ibu ya tetep aja bikin aku ga bisa berlama lama keluar dari rumah, wkakaka... ibu tempat kembali dari kegalauan hati..

ibu adalah salah satu sosok manusia mulia yang takkan dapat terlupakan dan tak dapat tergantikan oleh siapapun di dunia ini :-)

heheheh
mantaap ne......
ntar saya kirim linknya ke pacar saya

weh hanya didedkasikan untuk kaum ibu ik..
#balikkanangrak!

Alhamdulilah selalu terpanjatkan karena telah menjadi seorang ibu. Semoga anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh, sholeha dan taat kepada orangtua dan agamanya. Amiiiin ya Allah.

Subhanalloh...
Pokoknya harus menghormati Ibu gimanapun keadaannya...
Ketulusannya memang tak terbatas...